Selasa, 26 Juli 2011

gang potlot

Video Clip "Kalau kau Ingin Jadi Pacarku" (Potlot 90an)


Jalan Potlot 14, pada suatu siang. Rumah yang terletak di gang sempit di kawasan Durentiga, Jakarta Selatan, itu lebih mirip sebuah markas geng ketimbang rumah tinggal. Sekitar 200 anak muda yang menamakan dirinya warga ”Slankers”—alias komunitas penggemar Slank—duduk-duduk di pinggir rumah. Rata-rata mereka berpenampilan serupa: dengan jins kumel, rambut panjang tak beraturan, gaya yang acuh tak acuh, bersandar ke tembok yang penuh dengan grafiti. ”Arek Simo Es Be Ye tidur di Potlot”, ”Turu nang Potlot” (tidur di Potlot—Red), ”Slankers Lampoenk” secara serabutan tertulis di tembok itu sehingga gerombolan grafiti itu akhirnya menjadi selembar ”wallpaper”. Hari ini adalah hari besar untuk para Slankers. Hari ini adalah pertemuan antara komunitas penggemar Slank dan musisi pujaannya.
Kelompok Slank adalah satu-satunya kelompok musik Indonesia yang memiliki komunitas penggemar terbanyak dan fanatik. Jumlah penggemarnya yang terdaftar dalam fans club mencapai hampir setengah juta orang. Hubungan antara kelompok Slank dan para Slankers semakin dekat dengan kegiatan open house di Potlot, tempat setiap Slankers bebas datang, mengobrol, bahkan menginap di ”sarang” tersebut. Tersedia kamar-kamar berukuran dua kali tiga meter untuk para Slankers dari luar kota yang ingin sekadar melepas lelah.
Memang, Slank bukan hanya berhasil meraih sukses melalui delapan albumnya. Nama Slank pun identik dengan gaya hidup. Para Slankers yang fanatik lazimnya mengenakan kaus ketat yang mempertontonkan pusar, dompet yang menggelantung di kanan pinggang, kalung dengan liontin berlogo kupu-kupu yang menunjukkan kaum Slankers, dan mereka akan saling meneriakkan ”Piss!”—pelesetan dari kata ”peace”—pada saat bentrok.
























”Mereka adalah kita. Kita adalah mereka,” kata Abdee Negara, gitaris Slank, menjelaskan hubungan antara kelompoknya dan penggemarnya. Kedekatan dengan penggemar merupakan misi terpenting Slank. Maklum, pada masa lalu, kelompok band atau artis biasanya tidak dapat dijangkau oleh para penggemarnya.
Jarak semacam itulah yang ingin diterabas kelompok ini dengan menciptakan komunitasnya—yang tentu saja pada akhirnya berbuntut pada kesetiaan kepada produk dan konser Slank—sehingga batas antara personel Slank dan penggemar mereka makin cair. Kebiasaan curhat (ini bahasa anak muda untuk kata ”mencurahkan hati”—Red) para Slankers kepada personel Slank adalah acara rutin jumpa fans. Bahkan, cerita pribadi tersebut bisa menjadi sebuah lagu. ”Saya pernah diceritain masalah cewek. Dia nangis-nangis ke saya. Hidupnya hancur,” tutur Bim Bim. Lalu, jadilah lagu Jinnabelasan, yang berkisah tentang seorang anak korban keluarga yang pecah.
Apa boleh buat, di mana ada ketenaran, di situ ada kebingungan dan kekagetan.
Untuk alasan apa pun, narkotik dan obat-obatan terlarang kemudian menjadi sebuah pelarian.




Rumah nomor 14 di Gang Potlot itu pun dinamakan ”Pulau Biru”—diambil dari nama salah satu perusahaan penyelenggara tur Slank—tempat Slankers merasa memiliki dunia sendiri. Dunia itu terdiri dari shabu-shabu, putaw, atau sekadar ganja. Menurut Abdee, ketika tiga personel Slank masih kecanduan putaw, uang yang harus dikeluarkan untuk mete (istilah yang berarti mengisap putaw—Red) bisa mencapai Rp 1 juta dalam sehari. Padahal, tiga pengusung Slank—Bim Bim, Kaka, dan Iwan—telah menjadi pecandu putaw selama enam tahun. Bayangkan, berapa ratus juta (atau bahkan miliar) rupiah yang terbuang untuk putaw.
Kegiatan arisan (beramai-ramai berpesta drugs—Red) itu pada akhirnya menjadi lingkaran setan di antara para Slankers dan kelompok Slank. Bahkan ada Slankers yang sengaja memberikan upeti narkotik ke personel Slank. ”Akhirnya, orang-orang menyangka, hal seperti itulah (menggunakan narkotik—Red) yang harus dilakukan Slankers,” tutur Denny M.R., pengamat musik.














Di era tahun 90-an gang ini mulai dikenal oleh kalangan pecinta musik domestik, gang yang terletak di sekitar Taman Makam Pahlawan Kalibata ini merupakan markas besar dari grup band SLANK dan para Slanker (Fans berat SLANK.red).
Berbeda dengan gang kebanyakan, di tempat itu terdapat sebuah komunitas anak muda yang boleh dikatakan sangat kreatif di bidangnya, bidang yang pada umumnya sangat diminati oleh kaum muda…..ya musik!. komunitas anak muda ini tidak hanya sekedar kumpul-kumpul mendengarkan atau memainkan musik dari musisi idolanya saja melainkan mereka juga berkarya atau menciptakan sendiri bahkan pada akhirnya mempunyai management artis untuk komunitas mereka.
Layaknya sebuah institusi pendidikan non formal, gang Potlot No.14 bisa menghasilkan beberapa musisi muda yang pada saat pemunculannya bisa dan mampu bersaing dengan para pendahulunya baik secara penampilan dan hasil karyanya. Tak jarang juga karya-karya mereka bisa menciptakan trend baru pada saat itu dan bisa membuat pangsa pasar sendiri.





Potlot 90an





Slank dan Oppie

Sebut saja Oppie Andaresta & BOP salah satunya, saat pemunculan pertamanya dengan bermodalkan lagu yang berirama sedikit berbau country dengan lirik menggelitik langsung mencuri perhatian para penikmat musik dalam negeri.Konon lagu yang berjudul Cuma Khayalan itu diciptakan oleh salah seorang personel SLANK dalam durasi kurang lebih lima menit saja! saat mereka sedang berada di Anyer. Contoh lain musisi jebolan Gang Potlot yang mampu menciptakan trend & pangsa pasar sendiri adalah Alm. Imanez & Otto Jam. Dengan irama reggea yang berjudul Anak Pantai….langsung menghentak blantika musik domestik kala itu.
Seiring berjalannya waktu dan terjadinya perpecahan dalam tubuh SLANK, komunitas tersebut lambat laun tak terdengar lagi, kreatifitas mereka seakan ikut menghilang…hanya Oppie Andaresta yang masih sempat mengeluarkan album dengan hasil yang sangat kontras dengan dua album sebelumnya saat komunitas gang Potlot masih aktif.


Oppie



Seiring berjalannya waktu dan terjadinya perpecahan dalam tubuh SLANK, komunitas tersebut lambat laun tak terdengar lagi, kreatifitas mereka seakan ikut menghilang…hanya Oppie Andaresta yang masih sempat mengeluarkan album dengan hasil yang sangat kontras dengan dua album sebelumnya saat komunitas gang Potlot masih aktif.
Sangat disayangkan, komunitas tersebut harus berakhir atau bubar jalan dengan sendirinya, padahal banyak sekali musisi muda berbakat yang tergabung di dalam komunitas tersebut.
Gang Potlot saat ini hanya sebagai markas besar SLANK dan Slanker untuk berinteraksi (menurut saya !), tidak ada lagi atau mudah-mudahan belum ada lagi musisi selain SLANK yang mampu menggebrak dan memberikan nuansa baru untuk blantika musik indonesia….sangat disayangkan memang.








Slank dan Potlot sekarang yang sudah modern dan mengikuti perkembangan jaman pstinya lebih bersih dari narkoba

Tidak ada komentar:

Posting Komentar