Minggu, 11 September 2011

PROSPEK PENDIDIKAN NONFORMAL, Kini dan Masa Depan

Pendahuluan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Sejalan dengan itu, sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajamen pendidikan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global sehinga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah dan berkesinambungan.
Penyelenggaraan pendidikan nonformal (PNF) merupakan upaya dalam rangka mendukung perluasan akses dan peningkatan mutu layanan pendidikan bagi masyarakat. Jenis layanan dan satuan pembelajaran PNF sangat beragam, yaitu meliputi: (1) pendidikan kecakapan hidup, (2) pendidikan anak usia dini, (3) pendidikan kesetaraan seperti Paket A, B, dan C, (4) pendidikan keaksaraan, (5) pendidikan pemberdayaan perempuan, (6) pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja (kursus, magang, kelompok belajar usaha), serta (7) pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
Carut-marut dunia pendidikan Indonesia, sungguh tampil sebagai suatu realitas yang sangat memprihatinkan. Mahalnya biaya pendidikan yang tidak serta merta dibarengi dengan peningkatan kualitas secara signifikan, tentu menimbulkan tanda tanya besar mengenai orientasi pendidikan yang sebenarnya sedang ingin dicapai.
Ironisnya, disaat beberapa negara tetangga terus berupaya keras melakukan peningkatan kualitas pada sektor pendidikan, banyak pihak di negara ini justru menempatkan pendidikan sebagai suatu komoditas yang memiliki nilai jual yang tinggi. Tak mengherankan bahwa ketika banyak pihak mengejar pendidikan dari sisi kuantitas, tentu menimbulkan berbagai macam konsekuensi logis seperti terabaikannya faktor kualitas pendidikan.
Parahnya lagi, belakangan kita juga telah disadarkan bahwa banyak lulusan pendidikan formal tidak memiliki spesifikasi keahlian yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Dihadapkan pada kompleksnya situasi seperti yang dijabarkan diatas, kini banyak lembaga pendidikan non formal berupaya menempatkan diri sebagai alternatif solusi permasalahan diatas. Dengan tawaran sifat aplikatif dan biaya yang relatif lebih murah, banyak lembaga pendidikan non formal terbukti mampu menghasilkan lulusan yang sama kualitasnya bahkan lebih handal dari pada lulusan yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan formal dalam menghadapi persaingan.
Dalam situasi demikian, makna dibalik fenomena bermunculannya lembaga pendidikan non formal sebenarnya lebih ingin memberikan ruang kesadaran baru pada masyarakat, bahwa upaya pendidikan bukan sekedar kegiatan untuk meraih sertifikasi atau legalitas semata. Lebih daripada itu, upaya pendidikan sejatinya merupakan kegiatan penyerapan dan internalisasi ilmu, yang pada akhirnya diharapkan mampu membawa peningkatan taraf kehidupan bagi individu maupun masyarakat dalam berbagai aspek.

Pendidikan Nonformal Jalur Pendidikan Yang Kurang Dikenal
Di dalam berbagai pengarahan, sering kali sang pejabat mengatakan bahwa pembangunan pendidikan berarti membangun sumber daya manusia, dari yang belum terdidik menjadi berpendidikan,yang sudah berpendidikan ditingkatkan kualitas pendidikannya, atau dari yang mempunyai pendidikan umum diarahkan pada pendidikan keahlian atau ketrampilan tertentu untuk mendorong terciptanya kemandirian dalam berusaha.
Pembangunan pendidikan yang seperti ini terasa semakin penting dan mendesak, lebih-lebih bila hal ini dihubungkan dengan era perdagangan bebas. Harapan diatas tidaklah mungkin dapat ditangani sendiri oleh sekolah (pendidikan formal), hal ini dikarenakan belum semua masyarakat berkemampuan memasuki sekolah formal.
Untuk mengatasi kendala ini, pemerintah menyediakan jalur Pendidikan Non Formal (PNF), dimana menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional dikatakan bahwa fungsi PNF adalah mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan ketrampilan fungsional serta mengembangkan sikap dan kepribadian professional. Dengan kata lain Pendidikan Non Formal merupakan sebuah pendidikan alternatif bagi mereka yang terkendala dalam memperoleh pendidikan jalur formal.
Hal ini sesuai dengan tujuan PLS yang ada dalam PP 73 tahun 1991, yaitu membina warga belajar agar memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah atau melanjutkan ketingkat atau jenjang yang lebih tinggi serta memenuhi kebutuhan belajar masyarakt yan tidak dapat dipenuhi dalam jalur pendidikan sekolah.
Masalahnya, sampai saat ini keberadaan Pendidikan Non Formal belum banyak dikenal oleh masyarakat. Mengapa bisa terjadi?. padahal petugas Pendidikan Non Formal itu banyak, ada yang namanya Penilik Pendidikan Non Formal, ada Tenaga Lapangan pendidikan masyarakat, ada Tutor, ada Fasilitator Desa Intensif, ada Pamong Belajar. Ditangannyalah banyak program pendidikan non formal yang harus ditebarkan kepada masyarakat yang masih kesulitan mengakses pendidikan formal.
Dengan dukungan dana yang cukup besar, yang dirupakan dalam berbagai bentuk program, seperti dana program rintisan penyelenggaraan kelompok belajar kesetaraan, rintisan program PAUD, penyelenggaraan Keaksaraan Fungsional.
Ada juga program pasca melek aksara, yaitu program yang bertujuan mempertahankan dan meningkatkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung (Calistung) dengan mendirikan Taman Bacaan Masyarakat. Program mata pencaharian, yaitu program yang diarahkan untuk meningkatkan ketrampilan bekerja secara berkelompok melalui Kelompok Belajar Usaha, juga ada program peningkatan kualitas hidup, yang termasuk di dalamnya adalah penyelenggaraan pendidikan ketrampilan hidup (life skills) yang diutamakan bagi mereka yang masih belum memiliki pekerjaan agar bisa membuka lapangan kerja secara mandiri.
Biasanya lembaga-lembaga yang dijadikan mitra oleh Dinas Pendidikan Non Formal adalah mereka yang telah memiliki akta kelembagaan, rekening bank atas nama lembaga, seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Organisasi sosial kemasyarakatan dan lembaga sejenis yang direkomendasikan oleh Dinas Pendidikan setempat.
Program pendidikan non formal yang begitu banyak itu kiranya perlu lebih disosialisasikan keberadaannya kepada masyarakat yang menjadi sasaran program melalui berbagai media massa. Melakukan penyuluhan kepada masyarakat dengan memanfaatkan keberadaan kegiatan yang ada di kampung, seperti arisan PKK, posyandu dan majlis taklim. Semua itu perlu dilakukan agar program pendidikan non formal semakin dikenal oleh masyarakat.
Sehingga upaya mensukseskan percepatan wajib belajar dan pemerataan pendidikan melalui pendidikan non formal bisa dilihat dan dirasakan secara signifikan. Inilah tugas berat yang harus dilakukan oleh para penggiat pendidikan non formal dimana pun berada.

Pengertian, Tujuan dan Sasaran PNF
Konsep awal dari PNF ini muncul sekitar akhir tahun 60-an hingga awal tahun 70-an. Philip Coombs dan Manzoor A., P.H. (1985) dalam bukunya The World Crisis In Education mengungkapkan pendidikan itu pada dasarnya dibagi menjadi tiga jenis, yakni Pendidikan Formal (PF), Pendidikan Non Formal (PNF) dan Pendidikan In Formal (PIF). Khusus untuk PNF, Coombs mengartikannya sebagai sebuah kegiatan yang diorganisasikan diluar system persekolahan yang mapan, apakah dilakukan secara terpisahatau bagian terpenting dari kegiatan yang lebih luas dilakukan secara sengaja untuk melayani anak didik tertentu untuk mencapai tujuan belajarnya.
Penjelasan yang sama terdapat pula di UU Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN), dimana disana dijelaskan bahwa pendidikan diselenggaran di dua jalur, yakni jalur sekolah (pendidikan formal) dan jalur luar sekolah (PNF dan PIF). Dalam perubahan UU tentang SPN yang diperbaharui menjadi UU Nomor 20 Tahun 2003, istilah jalur pendidikan sekolah dan pendidilan luar sekolah berubah menjadi system PF, PNF dan PIF. “Dalam UU ini dijelaskan bahwa PNF adalah jalur pendidikan diluar PF yang dapat dilaksanakan secata terstruktur dan berjenjang. Sedangkan PIF merupakan jalur pendidikan keluarga dan lingkungan,” terang Syukri.
DalamUU Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 26 ayat 1 dijelaskan bahwa PNF diselenggaran bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah dan/atau pelengkap PF dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Lebih lanjut dalam ayat 2 dijelaskan PNF berfungsi mengembangkan potensi peserta didik (warga belajar) dengan penekanan pada pengusasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian professional.
Sementara di ayat 3, disana disebutkan bahwa PNF meliputi pendidikan kecakapan hidup(life skills); pendidikan anak usia dini; pendidikan kepemudaan; pendidikan pemberdayaan perempuan; pendidikan keaksaraan; pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja; pendidikan kesetaraan; serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
Ditilik dari satuan pendidikannya, pelaksanaan PNF terdiri dari kursus; lembaga pelatihan; kelompok belajar; Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM); majelis taklim; serta satuan pendidikan yang sejenis (pasal 26 ayat 4). Disamping itu, dalam pasal 26 ayat 5, disana dijelaskan bahwa kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hasil pendidikan keaksaraan dapat dihargai setara dengan hasil program PF setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah atau pemda dengan mengacu pada SPN (pasal 26 ayat 6).
Sasaran dan Karakteristik PNF Sasaran PNF dapat ditinjau dari beberapa segi, yakni pelayanan, sasaran khusus, pranata system pengajaran dan pelembagaan program. Titilik dari segi pelayanan, sasaran PNF adalah melayani anak usia sekolah (0-6 tahun), anak usia sekolah dasar (7-12 tahun), anak usia pendidikan menengah (13-18 tahun), anak usia perguruan tinggi (19-24 tahun). Ditinjau dari segi sasaran khusus, PNF mendidik anak terlantar, anak yatim piatu, korban narkoba, perempuan penghibur, anak cacat mentau maupun cacat tubuh.
Dari segi pranata, penyelenggaraan kegiatan pembelajaran dilakukan dilingkungan keluarga, pendidikan perluasan wawasan desa dan pendidikan keterampilan.
Di segi layanan masyarakat, sasaran PNF antara lain membantu masyarakat melalui program PKK, KB, perawatan bayi, peningkatan gizi keluarga, pengetahuan rumah tangga dan penjagaan lingkungan sehat. Dilihat dari segi pengajaran, sasaran PNF sebagai penyelenggara dan pelaksana program kelompok, organisasi dan lembaga pendidikan, program kesenian tradisional ataupun kesenian modern lainnya yaitu menjadi fasilitator bahkan turut serta dalam program keagamaan, seperti mengisi pengajaran di majelis taklim, di pondok pesantren, dan bahkan di beberapa tempat kursus.sedangakn sasaran PNF ditinjau dari segi pelembagaan, yakni kemitraan arau bermitra dengan berbagai pihak penyelenggara program pemberdayaan masyarakat berkoordinasi dengan desa atau pelaksana program pembangunan.
Bagaimana dengan karakteristik PNF? Secara khusus PNF memiliki spesifikasi yang ‘unik’ dibanding pendidikan sekolah, terutama dari berbagai aspek yang dicakupinya. Ini terlihat dari tujuan PNF, yakni memenuhi kebutuhan belajar tertentu yang fungsional bagi kehidupan masa kini dan masa depan, dimana dalam pelaksanananya tidak terlalu menekankan pada ijazah. Dalam waktu pelaksanannya, PNF terbilang relative singkat, menekankan pada kebutuhan di masa sekarang dan masa yang akan dating serta tidak penuh dalam menggunakan waktu alias tidak terus menerus.
Isi dari program PNF ini berpedolam pada kurikulum pusat pada kepentingan peserta didik (warga belajar), mengutamakan aplikasi dimana menekanannya terletak pada keterampilan yang bernilai guna bagi kehidupan peserta didik dan lingkungannya. Soal persyaratan masuk PNF, hal itu ditetapkan berdasarkan hasil kesepakatan bersama antara sesama peserta didik. Proses belajar mengajar dalam PNF pun relative lebih fleksibel, artinya diselenggarakan di lingkungan masyarakat dan keluarga.

Pendidikan Luar Sekolah sebagai Sebuah Alternatif
Kita menyadari bahwa SDM kita masih rendah, dan tentunya kita masih punya satu sikap yakni optimis untuk dapat mengangkat SDM tersebut. Salah satu pilar yang tidak mungkin terabaikan adalah melalui pendidikan non formal atau lebih dikenal dengan pendidikan luar sekolah (PLS).
Seperti kita ketahui, bahwa rendahnya SDM kita tidak terlepas dari rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, terutama pada usia sekolah. Rendahnya kualitas SDM tersebut disebabkan oleh banyak hal, misalnya ketidakmampuan anak usia sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sebagai akibat dari kemiskinan yang melilit kehidupan keluarga, atau bisa saja disebabkan oleh oleh angka putus sekolah, hal yang sama disebabkan oleh factor ekonomi
Oleh sebab itu, perlu menjadi perhatian pemerintah melalui semangat otonomi daerah adalah mengerakan program pendidikan non formal tersebut, karena UU Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional secara lugas dan tegas menyebutkan bahwa pendidikan non formal akan terus ditumbuhkembangkan dalam kerangka mewujudkan pendidikan berbasis masyarakat, dan pemerintah ikut bertanggungjawab kelangsungan pendidikan non formal sebagai upaya untuk menuntaskan wajib belajar 9 tahun.
Dalam kerangka perluasan dan pemerataan PLS, secara bertahap dan bergukir akan terus ditingkatkan jangkauan pelayanan serta peran serta masyarakat dan pemerintah daerah untuk menggali dan memanfaatkan seluruh potensi masyarakat untuk mendukung penyelenggaraan PLS, maka Rencana Strategis baik untuk tingkat propinsi maupun kabupaten kota, adalah :
Perluasan pemerataan dan jangkauan pendidikan anak usia dini;
Peningkatan pemerataan, jangkauan dan kualitas pelayanan Kejar Paket A setara SD dan B setara SLTP;
Penuntasan buta aksara melalui program Keaksaraan Fungsional;
Perluasan, pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan perempuan (PKUP), Program Pendidikan Orang tua (Parenting);
Perluasan, pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan berkelanjutan melalui program pembinaan kursus, kelompok belajar usaha, magang, beasiswa/kursus; dan
Memperkuat dan memandirikan PKBM yang telah melembaga saat ini di berbagai daerah di Kepulauan Bangka Belitung
Dalam kaitan dengan upaya peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan, maka program PLS lebih berorientasi pada kebutuhan pasar, tanpa mengesampingkan aspek akademis. Oleh sebab itu Program PLS mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, profesionalitas, produktivitas, dan daya saing dalam merebut peluang pasar dan peluang usaha, maka yang perlu disusun Rencana strategis adalah :
Meningkatkan mutu tenaga kependidikan PLS;
Meningkatkan mutu sarana dan prasarana dapat memperluas pelayanan PLS, dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil;
Meningkatkan pelaksanaan program kendali mutu melalui penetapan standard kompetensi, standard kurikulum untuk kursus;
Meningkatkan kemitraan dengan pihak berkepentingan (stakholder) seperti Dudi, asosiasi profesi, lembaga diklat; serta
Melaksanakan penelitian kesesuain program PLS dengan kebutuhan masyarakat dan pasar. Demikian pula kaitan dengan peningkatan kualitas manajemen pendidikan.
Strategi PLS dalam rangka era otonomi daerah, maka rencana strategi yang dilakukan adalah :
Meningkatkan peranserta masyarakat dan pemerintah daerah;
Pembinaan kelembagaan PLS;
Pemanfaatan/pemberdayaan sumber-sumber potensi masyarakat;
Mengembangkan sistem komunikasi dan informasi di bidang PLS;
Meningkatkan fasilitas di bidang PLS
Semangat Otonomi Daerah PLS memusatkan perhatiannya pada usaha pembelajaran di bidang keterampilan lokal, baik secara sendiri maupun terintegrasi. Diharapkan mereka mampu mengoptimalkan apa yang sudah mereka miliki, sehingga dapat bekerja lebih produktif dan efisien, selanjutnya tidak menutup kemungkinan mereka dapat membuka peluang kerja.
Pendidikan Luar Sekolah menggunakan pembelajaran bermakna, artinya lebih berorientasi dengan pasar, dan hasil pembelajaran dapat dirasakan langsung manfaatnya, baik oleh masyarakat maupun peserta didik itu sendiri.
Di dalam pengembangan Pendidikan Luar Sekolah, yang perlu menjadi perhatian bahwa, dalam usaha memberdayakan masyarakat kiranya dapat membaca dan merebut peluang dari otonomi daerah, pendidikan luar sekolah pada era otonomi daerah sebenarnya diberi kesempatan untuk berbuat, karena mustahil peningkatan dan pemberdayaan masyarakat menjadi beban pendidikan formal saja, akan tetapi pendidikan formal juga memiliki tanggungjawab yang sama.
Oleh sebab itu sasaran Pendidikan Luar Sekolah lebih memusatkan pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan berkelanjutan, dan perempuan. Selanjutnya Pendidikan Luar Sekolah harus mampu membentuk SDM berdaya saing tinggi, dan sangat ditentukan oleh SDM muda (dini), dan tepatlah Pendidikan Luar sekolah sebagai alternative di dalam peningkatan SDM ke depan.
PLS menjadi tanggungjawab masyarakat dan pemerintah sejalan dengan Pendidikan Berbasis Masyarakat, penyelenggaraan PLS lebih memberdayakan masyarakat sebagai perencana, pelaksanaan serta pengendali, PLS perlu mempertahankan falsafah lebih baik mendengar dari pada didengar, Pemerintah daerah propinsi, kabupaten dan kota secara terus menerus memberi perhatian terhadap PLS sebagai upaya peningkatan SDM, dan PLS sebagai salah satu solusi terhadap permasalahan masyarakat, terutama anak usia sekolah yang tidak mampu melanjutkan pendidikan, dan anak usia putus sekolah.
Perlunya Life Skill dan Semangat Entrepreneur
Salah satu solusi agar materi yang diberikan tidak terlalu membebani peserta didik adalah dengan menitipkan pesan “setiap materi mampu memberikan pelajaran life skill” kepada peserta didiknya dengan alokasi waktu yang relatif cukup dalam proses pembelajaran. Salah satu pertanyaan yang dapat diajukan lebih lanjut adalah sejauh mana materi tersebut berisi aspek life skill dan sejauh mana life skill yang dimaksudkan memang mampu untuk menyiapkan peserta didik untuk memasuki dunia kerja?
Apakah benar bila, misalnya, seorang mahasiswa yang kuliah di matematika setelah lulus dapat langsung bekerja sesuai dengan profesinya sebagai matematikawan? Apakah mahasiswa yang kuliah di jurusan pertanian juga dapat langsung mengolah lahan pertanian secara profesional ketika sudah lulus. Begitu pula dengan jurusan lainnya. Pada kenyataannya, justru begitu banyak orang yang sesungguhnya sangat sukses ketika masih di bangku kuliah, memperoleh IP (Indeks Prestasi) yang memuaskan, tetapi ia gagap ketika terjun langsung di masyarakat.. Kepandaian dan ketrampilannya solah-olah terbuang dan kurang memiliki nilai positif untuk dirinya. Ternyata persoalannya bukan semata-mata pada ada atau tidaknya life skill dalam pembelajaran. Persoalan utama justru pada sikap kewirausahaan (enterpreneurship) yang perlu ditumbuhkan pada setiap peserta didik.
Dengan demikian jelaslah sekarang bahwa amat diperlukan pendidikan yang sengaja dirancang untuk membekali peserta didik dengan ketrampilan hidup (life skill), yang secara integratif memadukan potensi generik dan spesifik guna memecahkan dan mengatasi problematika kehidupan. Pendidikan harus dikembalikan pada prinsip dasarnya, yaitu sebagai upaya untuk memanusiakan manusia (humanisasi). Karena itu, pendidikan harus dapat membekali peserta didik, selain dengan kemampuan belajar (learning how to learn), juga kemampuan melepaskan diri dari kebiasaan yang kurang baik (learning how to un learn), seperti menghilangkan pola pikir yang tidak tepat, atau perilaku yang mengganggu, baik orang lain maupun masyarakat pada umumnya. Pendidikan harus dapat pula menyadarkan peserta didik mengenali dan mensyukuri potensi dirinya, kemudian dapat mengembangkan dan mengamalkannya, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk masyarakat, bangsa, dan negara. Kepercayaan diri dan kemandirian juga sangat perlu ditanamkan dan dibiasakan, agar mereka berani menghadapi problema kehidupan serta mampu memecahkannya secara kreatif, untuk memperoleh hasil yang bermakna bagi hidup dan kehidupannya, yang akan berpengaruh pada peningkatan daya saingnya. (Wahidmurni, 2004:8).

Pendidikan Nonformal Adalah Sebagai Pendidikan Yang Amat Dinamis Dengan Waktunya Yang Fleksibel
Pendidikan non formal suatu paradigma di dalam memajukan anak bangsa khususnya mereka yang tidak ditempa dalam pendidikan formal. Seharusnya pendidikan nonformal menjadi pendidikan alternatif bahkan lebih dari pendidikan formal. Namun seyogyanya salah satu yang ada dalam pikiran bagaimana kita untuk kedepan mungkin pendidikan nonformal dapat lebih menggunakan keuntungan dari pendidikan nonformal adalah sebagai pendidikan yang amat dinamis dan waktunya fleksibel. Sehingga kedepan dapat diketemukan cara untuk sebuah sistem pembelajaran yang bersifat dinamis dan berkualitas dengan menggunakan keuntungan yang ada dan didapat itu memiliki arti luas.
Menurut saya pendidikan formal itu jangan menjadikan kita terbelenggu dengan kurikulum yang ada, padahal begitu banyak hal yang harus dipelajari, hanya membuat kita berpikir terkotak-kotak dengan sajian yang ada untuk pembelajaran sehingga kita kesulitan untuk berpikir bebas inovatif maupun berfikir logis dan kreatif; sebaiknya jangan ada anggapan lebih kepada mengejar ijazah bukan kepada kemampuan, baik itu kemampuan kognitif, afektif dan psikomorik; sehingga menjadikan pola pikir kita menjadi kaku, lebih cenderung tidak ada keberanian untuk mendobrak apa yang telah ada atau yang telah berjalan, Mudah-mudahan pendidikan nonformal betul-betul dapat menggantikan pendidikan formal yang diharapkan ada daya persaingan yang harmonis diantara ke dua bentuk pendidikan yang sudah diatur dalam Undang-undang nomor 20 tahun 1989.
Kita juga berharap, sebaiknya Pendidikan Nonformal setiap programnya diarahkan untuk peningkatan keterampilan kerja mandiri, jadi disetiap lembaganya perlu adanya semacam unit pengembangan usaha dan permodalan, agar mereka yang kebetulan telah meraih pendidikan di lembaga tersebut betul-betul dapat menguasai ilmunya dan juga menguasai cara pengolahannya sehingga laku dijual, apalagi di era otonomi ini mestinya tidak terlalu sulit untuk melaksanakan program tersebut.
Tentunya sangat tergantung kepada Pemimpin Daerahnya dan yang lebih baik lagi ada payung hukumnya, sehingga tidak menyalahi aturan perundang-undangan yang berlaku. Alangkah sangat bijak lagi apabila, instansi terkait di daerah saling mendukung yaitu melaksanakan kegiatan produktif dalam satu atap atau mekanisme tertentu, sehingga peserta didik pendidikan nonformal setelah lulus betul-betul mampu dapat bersaing baik dari segi kualitas ilmu, maupun segi hasil kualitas produksinya.
Kalau kita lihat dengan mata yang jelas dan keterharuan pada sebuah pendidikan merupakan yang paling menarik secara pasti adalah pendidikan nonformal, karena lembaga ini setelah di pahami dan disebut dengan barang langka masih banyak orang yang belum mengenalnya bahkan ada yang ikut suatu jenjang pendidikan di dengan klasifikasi kesarjanaan S1.
Sementara pendidikan nonformal adalah merupakan sebuah pendidikan yang sulit dan banyak liku-likunya tidak semudah formal yang hanya dapat di lakukan secara tatap muka yang berada di kelasnya.Nah kalau semua ini dapat diterima dan di jabarkan oleh para penentu kebijakan maka pendidikan nonformal itu sudah banyak tenaganya. ini akan menjadi sebuah wacana yang akan pasti lebih berpikir arif dan bijaksana andaikan ini tentunya tidak terlepas dari sebuah pengabdian. .
Kalau semua ini untuk meningkatkan mutu PTK-PNF mari kita ajak para stakeholder itu untuk dapat mengabdi kepada pendidikan nonformal jadi ketuntasan wajib belajar 9 tahun. Tentunya kita ketahui bersama banyak Program-program pelatihan atau orientasi bagi PTK-PNF besar manfaatnya, oleh karena itu program tersebut harus benar-benar direalisasikan baik di dalam negeri maupun program keluar negeri.
Selain adanya sarana dan prasarana, hal yang terpenting lainnya adalah cara menggunakan sarana dan prasarana tersebut dengan efektif. Oleh sebab itu, maka pembuatan rencana program sosialisasi dengan menggunakan berbagai media yang ada agar betul-betul direncanakan dengan sebaik-baiknya. Baik dari sisi minat pada masyarakat maupun pandai menangkap isu yang berkembang pada masyarakat, khususnya tentang pendidikan nonformal.
Terakhir untuk mendapatkan SDM yang baik, maka perlu diadakan diklat yang berkesinambungan dan sasaran yang tetap sehingga hasil yang diperoleh benar-benar dapat terserap dengan baik dan dapat direalisasikan di SKB masing-masing. Khususnya program ICT, kendala utama yang dihadapi selama ini adalah tidak adanya tenaga staf maupun pamong belajar yang memang adalah ahli komputer. Jadi jalan terbaiknya adalah dengan diklat yang berkesinambungan dan sasaran yang tetap.
Barangkali inilah yang menjadi pemikiran bersama, kita berharap dengan respon dan dukungan yang diberikan oleh pemerintah kita khususnya Dit PTK-PNF diharapkan untuk wajar 2009 tuntas melalui program-program unggulan yang jitu dalam membebaskan Indonesia dari buta aksara, yang jelas sesuai dengan tupoksi pendidikan non formal sebagai pendidikan yang dinamis dengan waktu yang fleksibel. what next?

Minggu, 31 Juli 2011

Slank Cuma Untukmu (anuku)

Cuma gandengan tangan
Nggak pake peluk 2 an
Cuma cium 2 di pipi
Nggak pake cipok 2 an
Cuma janji berkencan
Nggak ada niat pacaran

Aku sudah tahu
Anuku hanya untuk dirimu
Akupun tahu
Begitu harus tunggu resmi dulu
(begitu tunggu sampe diresmiin penghulu)

Cuma jalan 2 dikeramaian
Buka mojok berduan
Cuma pergi ke 21
Bukan nonton film begituan
Cuma duduk 2 di sofa
Bukan tidur 2 an diranjang
Cuma santai 2 dipantai
Sambil menatap bintang
Cuma ngobrol curhat 2 an
Sambil tukar pikiran

slank - terserah

Cepat-cepat jangan terlambat jangan lama-lama waktu terus berjalan
Sekarang aku butuh perhatian oh yeah ?

Dan ini-ini saat ini waktu yang tepat jangan tunggu sampai
Aku berpaling ke gadis yang lain oh yeah ?

Klo cinta aku jawab saja iya
Tak ingin kudengar mungkin ? mungkin .,. mungkin ?
Klo kau gak suka bilang terus terang
Jangan ada kata terserah terserah

Ngaku-ngaku ngaku aja deh elo lagi bingung mikirin antara
aku atau mutusin pacarmu

Sabtu, 30 Juli 2011

jadwal GP 2011

20 Maret, Qatar (Losail)
3 April, Spanyol (Jerez)
24 April, Jepang (Motegi)
1 Mei, Portugal (Estoril)
15 Mei, Prancis (Le Mans)
5 Juni, Katalunya (Katalunya)
12 Juni, Inggris (Silverstone)
25 Juni, Belanda (Assen)
3 Juli, Italia (Mugello)
17 Juli, Jerman (Sachsenring)
24 Juli, Amerika Serikat (Laguna Seca)
14 Agustus, Republik Ceko (Brno)
28 Agustus, Indianapolis (Indianapolis)
4 September, San Marino & Riviera di Rimini (Misano)
18 September, Aragon (Motorland)
16 Oktober, Australia (Phillip Island)
23 Oktober, Malaysia (Sepang)
6 November, Valencia (Ricardo Tormo Valencia)

Jumat, 29 Juli 2011

Cara Membuka Phone Lock/Security Code Nokia

Jika Anda mengalami masalah “Phone lock”, maka tidak perlu panik, karena ada beberapa langkah awal yang dapat dilakukan untuk mengatasinya yaitu dengan cara memasukkan kode standar yang biasa digunakan yaitu 12345, 1234, 0000. 000000 dan 000000000. Jika belum berhasil, coba lakukan dengan angka bebas.

Anda gak perlu khawatir melakukan kesalahan memasukkan kode kecuali ada tampilan peringatan batas uji cobanya, dari pengalaman biasanya terdapat pada ponsel Siemens.

Khusus untuk ponsel Samsung bisa dilakukan reset EEPROM langsung dengan memasukkan kode *2767*2878# dalam kondisi ponsel hidup tanpa menggunakan simcard. Jika belum berhasil juga maka Anda dapat membawanya ke service center untuk membuka Phone Lock.

Umumnya langkah perbaikan dilakukan dengan cara software, melanjutkan pengenalan cara menggunakan UFS TORNADO maka edisi kali ini kita akan mencoba memberikan langkah-langkah perbaikan software untuk mengatasi masalah ponsel yang terkunci oleh kode password (Phone Lock)

Membuka Phone Lock Nokia
DCT-3 (3610, 2100, 8210, 8250, 3310, 3315 … 6090)

* Hubungkan ponsel dengan UFS tornado pada PC
* Pastikan ponsel sudah terkoneksi dengan baik klik menu ‘check’ pada tampilan tornado di PC.
* Pilih DCT 3
* Klik jenis ponsel yang akan di unlock.
* Klik reset user lock 2x
* Lalu klik full factory default 2x
* Tunggu sampai OK
* Klik disconnect

Membuka Phone Lock Nokia DCT-4
(8310, 3300, 3530, 3510, 7210, 3100…)

* Hubungkan ponsel dengan UFS tornado
* Pastikan ponsel sudah terkoneksi dengan baik
* Pilih DCT 4
* Klik ponsel yang akan di unlock
* Klik reset user lock 2x
* Lalu klik full factory default 2x
* Tunggu sampai OK
* Klik disconnect

Langkah-langkah inipun dapat Anda lakukan untuk melakukan perbaikan Phone Lockk untuk jenis ponsel WD2 (N-Gage, N-GageQD, 3650, 3660, 6600, 7610,…) dan BB5 (6630, 6680, N70, N90…

Sumber: tabloid roaming

Buat yang butuh info tentang nokia cheat, phone lock, dan informasi laennya, silahkan tengok ke http://kodenokia.blogspot.com/2008/08/nokia-cheats.html

Kode Tombol Rahasia Ponsel Nokia – Kunci Trik Cara Buka Secret Code Akses HP/Handphone/Telepon Selular/Seluler Nokia Anda

Nokia Anda

Berikut ini adalah kunci kode tombol rahasia yang dapat anda jalankan sendiri dengan mengetiknya di keypad hp ponsel anda yang bermerek Nokia baik yang cdma maupun yang gsm.

1. Melihat IMEI (International Mobile Equipment Identity)
Caranya tekan * # 0 6 #

2. Melihat versi software, tanggal pembuatan softwre dan jenis kompresi software
Caranya tekan * # 0 0 0 0 #
Jika tidak berhasil coba pencet * # 9 9 9 9 #

3. Melihat status call waiting
Caranya tekan * # 4 3 #

4. Melihat nomor / nomer private number yang menghubungi ponsel anda
Caranya tekan * # 3 0 #

5. Menampilkan nomer pengalihan telepon all calls
Caranya tekan * # 2 1 #

6. Melihat nomor penelepon pada pengalihan telepon karena tidak anda jawab (call divert on)
Caranya tekan * # 6 1 #

7. Melihat nomor penelepon pada pengalihan telepon karena di luar jangkauan (call divert on)
Caranya tekan * # 6 2 #

8. Melihat nomor penelepon pada pengalihan telepon karena sibuk (call divert on)
Caranya tekan * # 6 7 #

9. Merubah logo operator pada nokia type 3310 dan 3330
Caranya tekan * # 6 7 7 0 5 6 4 6 #

10. Menampilkan status sim clock
Caranya tekan * # 7 4 6 0 2 5 6 2 5 #

11. Berpindah ke profil profile ponsel anda
Caranya tekan tombol power off tanpa ditahan

12. Merubah seting hp nokia ke default atau pabrikan
Caranya tekan * # 7 7 8 0 #

13. Melakukan reset timer ponsel dan skor game ponsel nokia
Caranya tekan * # 7 3 #

14. Melihat status call waiting
Caranya tekan * # 4 3 #

15. Melihat kode pabrik atau factory code
Caranya tekan * # 7 7 6 0 #

16. Menampilkan serial number atau nomer seri hp, tanggal pembuatan, tanggal pembelian, tanggal servis terakhir, transfer user data. Untuk keluar ponsel harus direset kembali.
Caranya tekan * # 92702689 #

17. Melihat kode pengamanan ponsel anda
Caranya tekan * # 2 6 4 0 #

18. Melihat alamat ip perangkat keras bluetooth anda
Caranya tekan * # 2 8 2 0 #

19. Mengaktifkan EFR dengan kualitas suara terbaik namun boros energi batere. Untuk mematikan menggunakan kode yang sama.
Caranya tekan * # 3 3 7 0 #

20. Mengaktifkan EFR dengan kualitas suara terendah namun hemat energi batere. Untuk mematikan menggunakan kode yang sama.
Caranya tekan * # 4 7 2 0 #

21. Menuju isi phone book dengan cepat di handphone nokia
Caranya tekan nomer urut lalu # contoh : 150#

22. Mengalihkan panggilan ke nomor yang dituju untuk semua panggilan
Caranya tekan * * 2 1 * Nomor Tujuan #

23. Mengalihkan panggilan ke nomor yang dituju untuk panggilan yang tidak terjawab
Caranya tekan * * 6 1 * Nomor Tujuan #

24. Mengalihkan panggilan ke nomor yang dituju untuk panggilan ketika telepon hp anda sedang sibuk
Caranya tekan * * 6 7 * Nomor Tujuan #

Keterangan Tambahan :
- Kode diinput tanpa spasi
- Ada kode-kode nokia yang berlaku pada tipe tertentu saja

Selasa, 26 Juli 2011

Lirik Lagu Sahabat Kecil (OST Laskar Pelangi) - Ipang BIP

Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa di beli

Reff:
Bersamamu ku habiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Melawan keterbatasan
Walau sedikit kemungkinan
Tak akan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi

Back to Reff:

Janganlah berganti
Janganlah berganti
Janganlah berganti
Tetaplah seperti ini

Janganlah berganti
Janganlah berganti
Tetaplah seperti ini

gang potlot

Video Clip "Kalau kau Ingin Jadi Pacarku" (Potlot 90an)


Jalan Potlot 14, pada suatu siang. Rumah yang terletak di gang sempit di kawasan Durentiga, Jakarta Selatan, itu lebih mirip sebuah markas geng ketimbang rumah tinggal. Sekitar 200 anak muda yang menamakan dirinya warga ”Slankers”—alias komunitas penggemar Slank—duduk-duduk di pinggir rumah. Rata-rata mereka berpenampilan serupa: dengan jins kumel, rambut panjang tak beraturan, gaya yang acuh tak acuh, bersandar ke tembok yang penuh dengan grafiti. ”Arek Simo Es Be Ye tidur di Potlot”, ”Turu nang Potlot” (tidur di Potlot—Red), ”Slankers Lampoenk” secara serabutan tertulis di tembok itu sehingga gerombolan grafiti itu akhirnya menjadi selembar ”wallpaper”. Hari ini adalah hari besar untuk para Slankers. Hari ini adalah pertemuan antara komunitas penggemar Slank dan musisi pujaannya.
Kelompok Slank adalah satu-satunya kelompok musik Indonesia yang memiliki komunitas penggemar terbanyak dan fanatik. Jumlah penggemarnya yang terdaftar dalam fans club mencapai hampir setengah juta orang. Hubungan antara kelompok Slank dan para Slankers semakin dekat dengan kegiatan open house di Potlot, tempat setiap Slankers bebas datang, mengobrol, bahkan menginap di ”sarang” tersebut. Tersedia kamar-kamar berukuran dua kali tiga meter untuk para Slankers dari luar kota yang ingin sekadar melepas lelah.
Memang, Slank bukan hanya berhasil meraih sukses melalui delapan albumnya. Nama Slank pun identik dengan gaya hidup. Para Slankers yang fanatik lazimnya mengenakan kaus ketat yang mempertontonkan pusar, dompet yang menggelantung di kanan pinggang, kalung dengan liontin berlogo kupu-kupu yang menunjukkan kaum Slankers, dan mereka akan saling meneriakkan ”Piss!”—pelesetan dari kata ”peace”—pada saat bentrok.
























”Mereka adalah kita. Kita adalah mereka,” kata Abdee Negara, gitaris Slank, menjelaskan hubungan antara kelompoknya dan penggemarnya. Kedekatan dengan penggemar merupakan misi terpenting Slank. Maklum, pada masa lalu, kelompok band atau artis biasanya tidak dapat dijangkau oleh para penggemarnya.
Jarak semacam itulah yang ingin diterabas kelompok ini dengan menciptakan komunitasnya—yang tentu saja pada akhirnya berbuntut pada kesetiaan kepada produk dan konser Slank—sehingga batas antara personel Slank dan penggemar mereka makin cair. Kebiasaan curhat (ini bahasa anak muda untuk kata ”mencurahkan hati”—Red) para Slankers kepada personel Slank adalah acara rutin jumpa fans. Bahkan, cerita pribadi tersebut bisa menjadi sebuah lagu. ”Saya pernah diceritain masalah cewek. Dia nangis-nangis ke saya. Hidupnya hancur,” tutur Bim Bim. Lalu, jadilah lagu Jinnabelasan, yang berkisah tentang seorang anak korban keluarga yang pecah.
Apa boleh buat, di mana ada ketenaran, di situ ada kebingungan dan kekagetan.
Untuk alasan apa pun, narkotik dan obat-obatan terlarang kemudian menjadi sebuah pelarian.




Rumah nomor 14 di Gang Potlot itu pun dinamakan ”Pulau Biru”—diambil dari nama salah satu perusahaan penyelenggara tur Slank—tempat Slankers merasa memiliki dunia sendiri. Dunia itu terdiri dari shabu-shabu, putaw, atau sekadar ganja. Menurut Abdee, ketika tiga personel Slank masih kecanduan putaw, uang yang harus dikeluarkan untuk mete (istilah yang berarti mengisap putaw—Red) bisa mencapai Rp 1 juta dalam sehari. Padahal, tiga pengusung Slank—Bim Bim, Kaka, dan Iwan—telah menjadi pecandu putaw selama enam tahun. Bayangkan, berapa ratus juta (atau bahkan miliar) rupiah yang terbuang untuk putaw.
Kegiatan arisan (beramai-ramai berpesta drugs—Red) itu pada akhirnya menjadi lingkaran setan di antara para Slankers dan kelompok Slank. Bahkan ada Slankers yang sengaja memberikan upeti narkotik ke personel Slank. ”Akhirnya, orang-orang menyangka, hal seperti itulah (menggunakan narkotik—Red) yang harus dilakukan Slankers,” tutur Denny M.R., pengamat musik.














Di era tahun 90-an gang ini mulai dikenal oleh kalangan pecinta musik domestik, gang yang terletak di sekitar Taman Makam Pahlawan Kalibata ini merupakan markas besar dari grup band SLANK dan para Slanker (Fans berat SLANK.red).
Berbeda dengan gang kebanyakan, di tempat itu terdapat sebuah komunitas anak muda yang boleh dikatakan sangat kreatif di bidangnya, bidang yang pada umumnya sangat diminati oleh kaum muda…..ya musik!. komunitas anak muda ini tidak hanya sekedar kumpul-kumpul mendengarkan atau memainkan musik dari musisi idolanya saja melainkan mereka juga berkarya atau menciptakan sendiri bahkan pada akhirnya mempunyai management artis untuk komunitas mereka.
Layaknya sebuah institusi pendidikan non formal, gang Potlot No.14 bisa menghasilkan beberapa musisi muda yang pada saat pemunculannya bisa dan mampu bersaing dengan para pendahulunya baik secara penampilan dan hasil karyanya. Tak jarang juga karya-karya mereka bisa menciptakan trend baru pada saat itu dan bisa membuat pangsa pasar sendiri.





Potlot 90an





Slank dan Oppie

Sebut saja Oppie Andaresta & BOP salah satunya, saat pemunculan pertamanya dengan bermodalkan lagu yang berirama sedikit berbau country dengan lirik menggelitik langsung mencuri perhatian para penikmat musik dalam negeri.Konon lagu yang berjudul Cuma Khayalan itu diciptakan oleh salah seorang personel SLANK dalam durasi kurang lebih lima menit saja! saat mereka sedang berada di Anyer. Contoh lain musisi jebolan Gang Potlot yang mampu menciptakan trend & pangsa pasar sendiri adalah Alm. Imanez & Otto Jam. Dengan irama reggea yang berjudul Anak Pantai….langsung menghentak blantika musik domestik kala itu.
Seiring berjalannya waktu dan terjadinya perpecahan dalam tubuh SLANK, komunitas tersebut lambat laun tak terdengar lagi, kreatifitas mereka seakan ikut menghilang…hanya Oppie Andaresta yang masih sempat mengeluarkan album dengan hasil yang sangat kontras dengan dua album sebelumnya saat komunitas gang Potlot masih aktif.


Oppie



Seiring berjalannya waktu dan terjadinya perpecahan dalam tubuh SLANK, komunitas tersebut lambat laun tak terdengar lagi, kreatifitas mereka seakan ikut menghilang…hanya Oppie Andaresta yang masih sempat mengeluarkan album dengan hasil yang sangat kontras dengan dua album sebelumnya saat komunitas gang Potlot masih aktif.
Sangat disayangkan, komunitas tersebut harus berakhir atau bubar jalan dengan sendirinya, padahal banyak sekali musisi muda berbakat yang tergabung di dalam komunitas tersebut.
Gang Potlot saat ini hanya sebagai markas besar SLANK dan Slanker untuk berinteraksi (menurut saya !), tidak ada lagi atau mudah-mudahan belum ada lagi musisi selain SLANK yang mampu menggebrak dan memberikan nuansa baru untuk blantika musik indonesia….sangat disayangkan memang.








Slank dan Potlot sekarang yang sudah modern dan mengikuti perkembangan jaman pstinya lebih bersih dari narkoba

Sabtu, 23 Juli 2011

pengertian pedagogik

Seorang guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik di sekolah, perlu memiliki
seperangkat ilmu tentang bagaimana ia harus mendidik anak. Guru bukan hanya sekedar
terampil dalam menyampaikan bahan ajar, namun disamping itu ia juga harus mampu
mengembangkan pribadi anak, mengembangkan watak anak, dan mengembangkan serta
mempertajam hati nurani anak. Pedagogik merupakan ilmu yang mengkaji bagaimana membimbing anak, bagaimana sebaiknya pendidik berhadapan dengan anak didik, apa tugas pendidik dalam mendidik anak, apa yang menjadi tujuan mendidik anak. Dalam bagian ini akan dibagai pengertian pedagogik, pendidikan dalam arti khusus dan arti luas. Pendidikan mengandung tiga aspek, yaitu mendidik, mengajar dan melatih, dan di bawah ini akan diuraikan perbedaan antara ketiga aspek tersebut, yaitu perbedaan antara mendidik, mengajar dan melatih.

Pendidikan dalam arti khusus
Pedagogik merupakan kajian pendidikan. Secara etimologi berasal dari kata Yunani “paedos”, yang berarti anak laki-laki dan “agogos” artinya mengantar, membimbing. Jadi pedagogik secara harfiah berarti pembantu anak laki-laki pada jaman Yunani kuno, yang pekerjaannya mengantarkan anak majikannya ke sekolah. Kemudian secara kiasan, pedagogik ialah seorang ahli, yang membimbing anak ke arah tujuan hidup tertentu. Menurut Prof. Dr. J. Hoogveld (Belanda) pedagogik adalah ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak ke arah tujuan tertentu, yaitu supaya kelak ia “mampu secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya”. Jadi pedagogik adalah Ilmu Pendidikan Anak Langveld (1980) membedakan istilah “pedagogik” dengan istilah “pedagogi”. Pedagogik diartikan dengan ilmu pendidikan, lebih menitik beratkan kepada pemikiran, perenungan tentang pendidikan. Suatu pemikiran bagaimana kita membimbing anak , mendidik anak. Sedangkan istilah pedagogi berarti pendidikan, yang lebih menekankan kepada praktek, menyangkut kegiatan mendidik, kegiatan membimbing anak. Pedagogik merupakan suatu teori yang secara teliti, kritis dan objektif mengembangkan konsep-konsepnya mengenai hakekat manusia, hakekat anak, hakekat tujuan pendidikan serta hakekat proses pendidikan

Dalam bahasa Inggris istilah pendidikan digunakan kata “education”, biasanya istilah tersebut dihubungkan dengan pendidikan di sekolah, dengan alasan, bahwa di sekolah tempatnya anak dididik oleh para ahli yang khusus mengalami pendidikan dan latihan sebagai profesi. Kata education berhubungan dengan kata Latin “educere” yang berarti “mengeluarkan suatu kemampuan” (e = Keluar, ducere = yang memimpin), jadi berarti membimbing untuk mengeluarkan suatu kemampuan yang tersimpan dalam diri anak. Kata “educere” kita temukan dalam kata konduktor, yaitu seseorang yang “memimpin kereta api dalam perjalanan (kondektur)”. Dalam ilmu listrik, konduktor ialah bahan (biasanya logam) yang dapat “membawa aliran listrik. Dalam bahasa Belanda kita temukan untuk pendidikan akta “opvoeden” (op = ke atas, voeden = memberi makan) disini memberi makan diambil kiasannya, yaitu memberi makanan rohani untuk meningkatkan kecakapan dan derajat seorang anak. Dalam bahasa Jerman untuk mendidik dipakai kata “orziehen” (or = keatas, ziehen = menarik) jadi “orziehen” yang berarti “menarik keatas” menggambarkan secara kiasan, bahwa mendidik itu meningkatkan (menarik keatas) kecakapan dan derajat seseorang. Dalam arti khusus, Langeveld mengemukakan bahwa pendidikan adalah bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya. Ahmadi dan Uhbiyati (1991) mengemukakan beberapa definisi pendidikan sebagai berikut :
a. Menurut Prof. Hoogeveld, mendidik adalah membantu anak supaya anak itu kelak cakap menyelesaikan tugas hidupnya atas tanggung jawab sendiri.
b. Menurut Prof. S. Brojonegoro, mendidik berarti memberi tuntutan kepada manusia yang belum dewasa dalam pertumbuhan dan perkembangan, sampai tercapainya kedewasaan dalam arti rohani dan jasmani.
Pedagogik

c. Menurut Ki Hajar Dewantara, mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Jadi pendidikan dalam arti khusus hanya dibatasi sebagai usaha orang dewasa dalam membimbing anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya. Setelah anak menjadi dewasa dengan segala cirinya, maka pendidikan dianggap selesai. Pendidikan dalam arti khusus ini menggambarkan upaya pendidikan yang terpusat dalam lingkungan keluarga, dalam arti tanggung jawab keluarga. Hal tersebut lebih jelas dikemukakan oleh Drijarkara (Ahmadi, Uhbiyati, 1991) bahwa
a. Pendidikan adalah hidup bersama dalam kesatuan tritunggal ayah – ibu – anak, dimana terjadi pemanusiaan anak. Dia berproses untuk memanusiakan sendiri sebagai manusia purnawan.
b. Pendidikan adalah hidup bersama dalam kesatuan tritunggal ayah – ibu – anak, dimana terjadi pembudayaan anak. Dia berproses untuk akhirnya membudaya sendiri sebagai manusia purnawan
c. Pendidikan adalah hidup bersama dalam kesatuan tritunggal ayah – ibu – anak, dimana terjadi pelaksanaan nilai-nilai, dengan mana dia berproses untuk akhirnya bisa melaksanakan sendiri sebagai manusia purnawan.
Menurut Drijarkara, pendidikan secara prinsip adalah berlangsung dalam lingkungan keluarga. Pendidikan merupakan tanggung jawab orang tua, yaitu ayah dan ibu yang merupakan figur sentral dalam pendidikan. Ayah dan Ibu bertanggung jawab untuk membantu memanusiakan, membudayakan, dan menanamkan nilai-nilai terhadap anak-anaknya. Bimbingan dan bantuan ayah dan ibu tersebut akan berakhir apabila sang anak menjadi dewasa, menjadi manusia sempurna atau manusia purnawan (dewasa)
Pedagogik(1), Drs . Uyoh Sadulloh, M.Pd 5
Rumah Ilmu Indonesia |www.rezaervani.com – http://groups.yahoo.com/group/rezaervani
Dari uraian diatas, pedagogik pembahasannya terbatas pada anak, jadi yang menjadi objek kajian pedagogik adalah pergaulan pendidikan antara orang dewasa dengan anak yang belum dewasa, menurut Langeveld disebut “situasi pendidikan”. Jadi proses pendidikan menurut pedagogik berlangsung sejak anak lahir sampai anak mencapai dewasa (pengertian dewasa akan dijelaskan pada bagian pembahasan tujuan pendidikan). Pendidik dalam hal ini bisa orang tua dan/atau guru yang fungsinya sebagai pengganti orang tua, membimbing anak yang belum dewasa mengantarkannya untuk dapat hidup mandiri, agar anak dapat menjadi dirinya sendiri

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2115688-pengertian-pedagogik/#ixzz1SxiIOPGm
Ilmu Pendidikan-KPLI SR2009
ii.
Latihan

Mengikut teori Thordike latihan dan pengulangan amat penting bagi meningkatkan keberkesanan pembelajaran. Selain itu, ia juga dapat meningkatkan kemahiran dan ingatan pelajar. Pembelajaran juga boleh berlaku melalui pembiasaan atau pengalaman. Oleh itu, guru perlu melibatkan pelajar- pelajar da lam proses pengajarannya seperti mengadakan aktiviti kumpulan, perbincangan, menjalankan projek

dan sebagainya. Dalam proses pembelajaran juga, generalisasi boleh berlaku. ni bermakna perkara yang dipelajari dalam situasi A boleh dipindahkan kepada situasi B.
Latih tubi merupakan satu lagi strategi instruksional yang digunakan. Kaedah
latih tubi ini boleh dilihat dalam dua cara yang berbeza iaitu

permainan dan kertas kerja. Latihan yang disediakan dalam kedua-dua bentuk ini boleh digunakan oleh guru secara berulang-ulang untuk mengukuhkan daya ingatan pelajar tentang topik yang telah diajarkan dengan harapan pelajar akan dapat menguasai konsep yang terdapat dalam topik tersebut melalui hafalan.
iii.
Peneguhan

Peneguhan juga merupakan proses semula jadi kepada manusia. Ia berlaku kesan daripada interaksi harian dengan persekitaran sosial dan fizikal. Peneguhan juga boleh dirancangkan untuk program memodifikasikan tingkahlaku seseorang dengan cara mengubah tingkah laku manusia tersebut. Peneguhan merupakan tingkah laku tertentu yang hadir diikuti dengan kesan dan tindak balas yang cepat. Apabila tindakbalas semakin teguh seseorang akan lebih terbiasa dengan perlakuan tersebut pada masa akan datang.

Menurut Skinner, hampir semua tingkah laku manusia boleh dibahagikan kepada dua kategori iaitu tingkah laku responden dan tingkah laku operan. Untuk mengaplikasikan teori ini guru perlu menggunakan peneguhan positif seperti memberi pujian atau hadiah untuk mengukuhkan tingkah laku yang diingini. Peneguhan positif perlu dilakukan secara tekal dan tetap bagi menjamin
14
Ilmu Pendidikan-KPLI SR2009

pengulangan tingkah laku yang diingini itu. Objektif pendidikan yang ingin dicapai perlu realistik. Jika tidak, pelajar akan mengalami kegagalan. Kegagalan membawa perasaan malu yang boleh menyebabkan berlakunya peneguhan negatif.

Sebagai seorang guru, peneguhan ini boleh digunakan dalam proses pembelajaran. Misalnya guru akan mengatakan ‘bagus’, ‘baik’ dan sebagainya apabila pelajar menunjukkan sikap yang diigini dalam proses pembelajaran. Oleh itu, seorang guru perlu memberikan pelajar-pelajarnya maklum balas tentang prestasi mereka, sama ada berjaya atau sebaliknya.

Mengikut teori pelaziman klasik Pavlov, gerak balas positif dapat dipupuk melalui pelaziman klasik. Kaitan antara rangsangan dengan gerak balas boleh dilazimkan atau dipelajari serta dapat diperkukuhkan melalui latihan. Semakin kerap rangsangan itu dikaitkan dengan sesuatu gerak balas, semakin kukuh gerak balas terlazim itu. Contohnya, apabila guru memberi pujian setiap kali pelajar mendapat hasil yang baik, maka gerak balas itu akan berterusan. Motivasi memainkan peranan penting dalam pembelajaran. Di dalam bilik darjah, guru perlu memotivasikan pelajar dengan menunjukkan sesuatu yang menarik sebelum mereka dapat memberi penumpuan yang teliti.
iv.
Menggalakkan Murid-Murid Berfikir

Melalui teori-teori yang dikemukakan di atas, boleh dikatakan semua teori tersebut menunjukkan ransangan terhadap pemikiran. Pendekatan ini menggalakkan pemikiran kritis dan kreatif serta celik akal dikalangan pelajar. Pelajar yang terlibat dengan kaedah ini akan berpuas hati apabila mereka dapat mencari jawapan sendiri dan menggalakan perasaan berdikari dalam proses pembelajaran. Untuk menggunakan kaedah ini, guru perlu mempunyai kepakaran yang lebih tinggi dan perlu membuat perancangan yang lebih teliti.
15
Ilmu Pendidikan-KPLI SR2009
v.
Belajar Mengikut Kemampuan

Teori kognitif lebih menumpukan kepada aspek pemikiran pelajar. Setiap pelajar mempunyai kebolehan mental untuk mengelola, menyimpan dan mengeluarkan semula segala pembelajaran lanjutan atau untuk menyelesaikan masalah. Ahli psikologi kognitif menyatakan bahawa pembelajaran ialah satu proses dalaman dan tidak dapat diperhatikan secara langsung. Pembelajaran menyebabkan perubahan tingkahlaku seseorang terhadap sesuatu situasi yang khusus. Dengan memahami teori perkembangan Piaget, seseorang guru harus menyesuaikan isi pelajaran dan aktiviti yang sesuai untuk pelajar-pelajarnya.
PENUTUP

Pengajaran dan pembelajaran saling berkait rapat antara satu sama lain. Tanpa penguasaan dan pengetahuan tentang ilmu pendidikan seseorang guru tidak akan berjaya dalam melaksanakan proses pengajaran dan pembelajaran secara berkesan di dalam bilik darjah. Untuk itu seseorang guru perlu melengkapkan diri dengan ilmu pendidikan iaitu psikologi, pedagogi dan profesionalisme keguruan agar tercapai matlamat untuk memberi kejayaan kepada pelajar.
16
Ilmu Pendidikan-KPLI SR2009

Berdasarkan daripada kaedah penyampaian yang digunakan, proses pembelajaran dan pengajaran yang dilaksanakan akan lebih terancang dan berkesan. Apabila guru menggunakan kaedah ini untuk proses pengajaran dan pembelajaran secara tidak langsung akan meningkatkan kemahiran pelajar dalam pengajaran dan pembelajaran.

Dalam suasana pengajaran dan pembelajaran, kemahiran-kemahiran bermaksud seseorang itu terlatih dan mempunyai pengalaman yang tinggi serta mendalam. Dalam proses pengajaran dan pembelajaran kebolehan menguasai kemahiran tertentu harus ditegaskan oleh guru, terutama kemahiran asas seperti menyelesaikan masalah, kemahiran berfikir secara kritis dan kreatif, kemahiran mendengar, bertutur, kemahiran membaca dan menulis dan sebagainya. Apabila pelajar menguasai kemahiran asas ini akan dapat membantu pelajar tersebut menguasai bidang-bidang ilmu yang lain dengan lebih mudah.

Oleh itu, untuk mencapai matlamat itu, bukanlah satu perkara mudah, kerana ianya memerlukan pengorbanan, kesungguhan, kebijaksanaan dan ketabahan kedua-dua belah pihak iaitu guru dan murid agar pengajaran dan pembelajaran dapat dilaksanakan dengan jayanya.
BIBLIOGRAFI
Crow and Crow (1983). Psikologi Pendidikan Untuk Perguruan. Kuala Lumpur.
Dewan Bahasa dan Pustaka.
17
Ilmu Pendidikan-KPLI SR2009
Dewan Bahasa dan Pustaka (2007). Kamus Dewan Edisi Keempat. Kuala Lumpur.
Dewan Bahasa dan Pustaka.
Ee Ah Meng (2003). Ilmu pendidikan: Pengetahuan dan Keterampilan Ikhtisas
(Semester 1). Kuala Lumpur. Penerbit Fajar Bakti Sdn. Bhd.
Kamarudin Hj. Husin (1997). Psikologi Bilik Darjah-Asas Pedagogi. Kuala Lumpur.
Utusan Publication dan Distributors Sdn.Bhd.
Mook Soon Sang (2009). Ilmu Pendidikan Untuk KPLI (Sekolah Rendah: Komponen
1 & 2) Psikologi Pendidikan & Pedagogi. Kuala Lumpur. Kumpulan Budiman Sdn. Bhd.
18
ilmu pendidikan-pengajaran dan pembelajaran
Download this Document for FreePrintMobileCollectionsReport Document
Info and Rating
Notes
Follow
Tu'yuk comel
Share & Embed
Related Documents
PreviousNext

p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.

More from this user
PreviousNext

18 p.

Recent Readcasters
Zubaidah Nusiri
Muhammad Khairul Basyar
Luran M Lah
Wan Zul Zul
Puspa Nicholas
Jiha Alcatraz
Hairul Zamann
延年
Hebat Fatimah
Kirana Nadia
Sures Ji
Lee View
Pamutung Rumput
Add a Comment

Ari_Pai_Helios_2811left a comment

menurut penyampaian di atas saya merasa menangkap sesuatu di dalam ilmu pendidikan tersebut ,baik dalam pembelajaran maupun tindakan-tindakan pengajar yang menjadi suatu hal yang sangat berkaitan dengan ilmu pendidikan tersebut

04 / 18 / 2010

akajieleft a comment

is reading ilmu pendidikan-pengajaran dan pembelajaran.

08 / 13 / 2009

Pengertian dan Perlunya Pedagogik

Apa itu pedagogik?

Bagi pendidik, istilah ini pasti sudah tidak asing lagi, dan ilmunya menjadi sebuah acuan dalam praktek mendidik anak. Jika dilihat dari segi istilah, pedagogik sendiri berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu paedos (anak) dan agogos (mengantar, membimbing, memimpin).

Dari dua istilah diatas timbul istilah baru yaitu paedagogos dan pedagog, keduanya memiliki pengertian yang hampir serupa, yaitu sebutan untuk pelayan pada zaman Yunani kuno yang mengantarkan atau membimbing anak dari rumah ke sekolah setelah sampai di sekolah anak dilepas, dalam pengertian pedagog intinya adalah mengantarkan anak menuju pada kedewasaan.

Istilah lainnya yaitu Paedagogia yang berarti pergaulan dengan anak, Pedagogi yang merupakan praktek pendidikan anak dan kemudian muncullah istilah Pedagogik yang berarti ilmu mendidik anak.

Lalu apa sih yang menjadi kesalahpahaman istilah Pedagogik?

Kadang sebagian orang mengartikan bahwa pedagogik merupakan ilmu pendidikan, pemaknaan ini tidak berarti salah namun juga tidak sepenuhnya benar, mengapa? Karena jika ditinjau dari makna pendidikan secara luas maka Pendidikan adalah hidup. Lebih tepatnya segala pengalaman di berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi perkembangan individu.

Dari pengertian diatas maka bisa dipahami ada beberapa tingkatan dalam pendidikan, sehingga menimbulkan cabang ilmu pendidikan yang dikembangkan para ahli yaitu pendidikan pada anak yang disebut Pedagogik, ilmu pendidikan bagi orang dewasa yang disebut Andragogi serta pendidikan bagi ilmu pendidikan manula yang disebut Gerogogi.

Jelaslah bahwa Pedagogik terbatas pada ilmu pendidikan anak atau ilmu mendidik anak. Maka timbul pertanyaan lain, kapankah seorang anak masuk dalam kawasan pedagogik? Menurut M.J. Langeveld, pendidikan baru terjadi ketika anak telah mengenal kewibawaan, syaratnya yaitu terlihat pada kemampuan anak memahami bahasa, karena sebelum itu dalam pedagogik anak tidak disebut telah dididik yang ada adalah pembiasaan. Sedang batas atasnya yaitu ketika anak telah mencapai kedewasaan atau bisa disebut orang dewasa.

Jadi, pengertian bahwa pedagogik adalah ilmu pendidikan berarti benar dalam pengertian pendidikan pedagogik, namun berarti salah jika mengacu pada makna pendidikan secara luas.

Kemudian, mengapa Pedagogik diperlukan? Padahal pedagogik yang merupakan rangakaian teori kadang berlainan dengan praktek di lapangan? Ada dua alasan yang melandasinya, yaitu bahwa pedagogik sebagai suatu sistem pengetahuan tentang pendidikan anak diperlukan, karena akan menjadi dasar bagi praktek mendidik anak. Selain itu bahwa pedagogik akan menjadi standar atau kriteria keberhasilan praktek pendidikan anak. Kedua, manusia memiliki motif untuk mempertanggungjawabkan pendidikan bagi anak-anaknya, karena itu agar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, praktek pendidikan anak memerlukan pedagogik sebagai landasannya agar tidak jadi sembarangan.

Untuk meyakinkan lebih jauh, pedagogik secara jelas memiliki kegunaan diantaranya bagi pendidik untuk memahami fenomena pendidikan secara sistematis, memberikan petunjuk tentang yang seharusnya dilaksanakan dalam mendidik, menghindari kesalahan-kesalahan dalam praktek mendidik anak juga untuk ajang untuk mengenal diri sendiri dan melakukan koreksi demi perbaikan bagi diri sendiri.

Menurut saya sendiri, pedagogik memang perlu dipelajari bahkan jika bisa untuk setiap orang, tanpa terbatas pada identitas sebagai calon guru. Karena sebenarnya kita semua akan atau mungkin anda yang telah memiliki keluarga telah menjadi seorang pendidik. Saya menyadari dan mengetahui pada dasarnya manusia mempunyai naluri untuk mendidik tanpa mempelajari teori, buktinya banyak orang tua berhasil mendidik anak mereka sampai kesuksesan, tanpa mempelajari pedagogik, namun teoripun lahir dari praktek di lapangan.

Lalu apakah dengan mempelajari pedagogik dan mempraktekannya dapat mendidik anak sehingga anak dapat mencapai kesuksesan? Jawabannya adalah bisa, karena tujuan pedagogik adalah memanusiakan manusia, menjadikan seseorang dewasa demi kebahagiaan dalam menjalani kehidupan. Kesuksesan ini jangan terus dikurung dalam artian pada kemapanan materi dari pandangan kita sebagai seorang pendidik sejati, tapi hakikatnya adalah menjadikan kesuksesan itu sebagai keberhasilan dalam menanamkan pada diri seseorang kebahagiaan dalam menjalani hidup dengan mengaplikasikan seperti misalnya mematuhi norma-norma yang ada pada masyarakat. Intinya, menjadikan seseorang menjalani hidup dengan bahagia.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat. Mohon maaf jika terdapat banyak kekurangan.

pendidikan luar sekolah

Kita menyadari bahwa SDM kita masih rendah, dan tentunya kita masih punya satu sikap yakni optimis untuk dapat mengangkat SDM tersebut. Salah satu pilar yang tidak mungkin terabaikan adalah melalui pendidikan non formal atau lebih dikenal dengan pendidikan luar sekolah (PLS).

Seperti kita ketahui, bahwa rendahnya SDM kita tidak terlepas dari rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, terutama pada usia sekolah. Rendahnya kualitas SDM tersebut disebabkan oleh banyak hal, misalnya ketidakmampuan anak usia sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sebagai akibat dari kemiskinan yang melilit kehidupan keluarga, atau bisa saja disebabkan oleh oleh angka putus sekolah, hal yang sama disebabkan oleh factor ekonomi

Oleh sebab itu, perlu menjadi perhatian pemerintah melalui semangat otonomi daerah adalah mengerakan program pendidikan non formal tersebut, karena UU Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional secara lugas dan tegas menyebutkan bahwa pendidikan non formal akan terus ditumbuhkembangkan dalam kerangka mewujudkan pendidikan berbasis masyarakat, dan pemerintah ikut bertanggungjawab kelangsungan pendidikan non formal sebagai upaya untuk menuntaskan wajib belajar 9 tahun.

Dalam kerangka perluasan dan pemerataan PLS, secara bertahap dan bergukir akan terus ditingkatkan jangkauan pelayanan serta peran serta masyarakat dan pemerintah daerah untuk menggali dan memanfaatkan seluruh potensi masyarakat untuk mendukung penyelenggaraan PLS, maka Rencana Strategis baik untuk tingkat propinsi maupun kabupaten kota, adalah :

Perluasan pemerataan dan jangkauan pendidikan anak usia dini;

Peningkatan pemerataan, jangkauan dan kualitas pelayanan Kejar Paket A setara SD dan B setara SLTP;

Penuntasan buta aksara melalui program Keaksaraan Fungsional;

Perluasan, pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan perempuan (PKUP), Program Pendidikan Orang tua (Parenting);

Perluasan, pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan berkelanjutan melalui program pembinaan kursus, kelompok belajar usaha, magang, beasiswa/kursus; dan

Memperkuat dan memandirikan PKBM yang telah melembaga saat ini di berbagai daerah di Riau.

Dalam kaitan dengan upaya peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan, maka program PLS lebih berorientasi pada kebutuhan pasar, tanpa mengesampingkan aspek akademis. Oleh sebab itu Program PLS mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, profesionalitas, produktivitas, dan daya saing dalam merebut peluang pasar dan peluang usaha, maka yang perlu disusun Rencana strategis adalah :

Meningkatkan mutu tenaga kependidikan PLS;

Meningkatkan mutu sarana dan prasarana dapat memperluas pelayanan PLS, dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil;

Meningkatkan pelaksanaan program kendali mutu melalui penetapan standard kompetensi, standard kurikulum untuk kursus;

Meningkatkan kemitraan dengan pihak berkepentingan (stakholder) seperti Dudi, asosiasi profesi, lembaga diklat; serta

Melaksanakan penelitian kesesuain program PLS dengan kebutuhan masyarakat dan pasar. Demikian pula kaitan dengan peningkatan kualitas manajemen pendidikan.

Strategi PLS dalam rangka era otonomi daerah, maka rencana strategi yang dilakukan adalah :

Meningkatkan peranserta masyarakat dan pemerintah daerah;
Pembinaan kelembagaan PLS;
Pemanfaatan/pemberdayaan sumber-sumber potensi masyarakat;
Mengembangkan sistem komunikasi dan informasi di bidang PLS;
Meningkatkan fasilitas di bidang PLS

Semangat Otonomi Daerah PLS memusatkan perhatiannya pada usaha pembelajaran di bidang keterampilan lokal, baik secara sendiri maupun terintegrasi. Diharapkan mereka mampu mengoptimalkan apa yang sudah mereka miliki, sehingga dapat bekerja lebih produktif dan efisien, selanjutnya tidak menutup kemungkinan mereka dapat membuka peluang kerja.

Pendidikan Luar Sekolah menggunakan pembelajaran bermakna, artinya lebih berorientasi dengan pasar, dan hasil pembelajaran dapat dirasakan langsung manfaatnya, baik oleh masyarakat maupun peserta didik itu sendiri..

Di dalam pengembangan Pendidikan Luar Sekolah, yang perlu menjadi perhatian bahwa, dalam usaha memberdayakan masyarakat kiranya dapat membaca dan merebut peluang dari otonomi daerah, pendidikan luar sekolah pada era otonomi daerah sebenarnya diberi kesempatan untuk berbuat, karena mustahil peningkatan dan pemberdayaan masyarakat menjadi beban pendidikan formal saja, akan tetapi pendidikan formal juga memiliki tanggungjawab yang sama. .

Oleh sebab itu sasaran Pendidikan Luar Sekolah lebih memusatkan pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan berkelanjutan, dan perempuan.

Selanjutnya Pendidikan Luar Sekolah harus mampu membentuk SDM berdaya saing tinggi, dan sangat ditentukan oleh SDM muda (dini), dan tepatlah Pendidikan Luar sekolah sebagai alternative di dalam peningkatan SDM ke depan.

PLS menjadi tanggungjawab masyarakat dan pemerintah sejalan dengan Pendidikan Berbasis Masyarakat, penyelenggaraan PLS lebih memberdayakan masyarakat sebagai perencana, pelaksanaan serta pengendali, PLS perlu mempertahankan falsafah lebih baik mendengar dari pada didengar, Pemerintah daerah propinsi, kabupaten dan kota secara terus menerus memberi perhatian terhadap PLS sebagai upaya peningkatan SDM, dan PLS sebagai salah satu solusi terhadap permasalahan masyarakat, terutama anak usia sekolah yang tidak mampu melanjutkan pendidikan, dan anak usia putus sekolah..Semoga.

TENTANG SISTEM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH MAKALAH ILMU PENDIDIKAN TENTANG SISTEM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
UNESCO dengan komisi Edgar faure telah berhasil meletakan asas pendidikan yang fundamental dan berlaku untuk penyelenggaraan pendidikan, yakni asas pendidikan seumur hidup / Ife long edu cation. Sebagai dampak timbulnya asas pendidikan ini, maka dikenallah berbagai bentuk penyelenggaraan pendidikan dan yang diarahkan bagi pendidikan anak, remaja, orang dewasa maupun orang tua baik mereka yang belum bekerja maupun mereka yang telah bekerja.
Penyelenggaraan pendidikan demikian pasti berbeda satu sama lain dan pada umumnya dikenal berbeda system pendidikan yang digunakan, yakni sistem pendidikan sekolah disatu pihak dan system pendidikan luar sekolah di lain pihak. Sebagaimana asas pendidikan seumur hidup, sistem pendidikan luar sekolah telah lama dikenal dan digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan baik di negara maju maupun negara yang sedang berkembang

1.2 Permasalahan
Dengan meninjau ciri-ciri dan klasifikasi pendidikan luar sekolah, maka sasaran pendidikan luar sekolah, tidak mudah ditetapkan seperti pendidikan sekolah. Oleh karena itu, beberapa permasalahan dalam makalah ini diantaranya adalah.
1 Apa saja sasaran pendidikan luar sekolah untuk pemuda?
2 Apa saja sasaran pendidikan luar sekolah untuk orang dewasa?

1.3 Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini yaitu sebagai berikut:
1 Untuk mengetahui sasaran pendidikan luar sekolah kepada para pemuda.
2 Untuk mengetahui sasaran pendidikan luar sekolah kepada orang dewasa.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Alasan-alasan Timbulnya Sistem Pendidikan Luar Sekolah
Secara terperinci dapat diungkapkan bahwa alasan-alasan timbulnya pendidikan luar sekolah adalah:
1 Alasan dari Segi Faktual-Historis
a. Kesejarahan
Pada umumnya sementara orang beranggapan bahwa bila memperbincangkan masalah pendidikan maka arientasinya ke dunia sekolah dan menghubungkan guru dengan murid.
Mereka kurang menyadari bahwa sebelum seseorang anak menjadi murid, anak-anak telah memperoleh pendidikan yang telah diberikan oleh keluarganya terutama ayah dan ibunya
Anak-anak bayak belajar di rumah dari ibunya atau orang tuanya di mana dan kapan saja serta menyangkut berbagai hal yang mereka perlukan di dalam petumbuhannya ke arah sempurna
Hal ini seperti diungkapkan oleh Drs. SWARNO bahwa: “Di dalam keluargalah anak pertama-tama menerima pendidikan, dan pendidikan yang diperoleh dalam keluarga ini merupakan pendidikan yang terpenting atau utama terhadap perkembangan pribadi anak”.
Jadi jelas, anggapan sementara orang seperti tersebut di atas merupakan pengingkaran terhadap kenyataan yang ada
Di samping itu, sudah selayaknya orang tua mempunyai tanggung jawab moral terhadap pendidikan anak-anaknya agar mereka kelak menjadi orang desa yang tidak tercela
b. Kebutuhan Pendidikan
Kesadaran akan kebutuhan pendidikan dari masyarakat semakin meluas seiring dengan munculnya Negara-negara yang baru merdeka dengan segala kekurangannya akibat penjajahan di masa lampau yang berlangsung berpuluh-puluh tahun atau bahkan beratus-ratus tahun
Sisi lain yang berpengaruh akan kesadaran kebutuhan pendidikan ini adalah kemajuan ilmu dan teknologi, perkembangan ekonomi, perkembangan politik, yang melanda hampir di semua belahan dunia
Realitas lain adalah makin dibutuhkannya berbagai macam keahlian dalam menyongsong kehidupan yang semakin kompleks dan penuh tuntutan, maka wajar masyarakat menghendaki berbagai penyelenggaraan pendidikan dengan program-program keahlian
Hal ini berimplikasi pada system dan bentuk-bentuk pendidikan yang dilaksanakan seterusnya dikenal adanya system pendidikan sekolah dan system pendidikan luar sekolah serta ada bentuk pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non formal
c. Keterbatasan Sistem Persekolahan
Di sisi lain system persekolahan, mengharuskan siswa berada dalam bentuk menyeluruh dan kahlian yang sejenis sehingga mereka terasing dari pengetahuan dan keahlian lain
Kekurang / kelemahan sistem persekolahan inilah yang memungkinkan kegiatan pendidikan luar sekolah menerobosnya sehingga terungkaplah pengetahuan dan keahlian yang selama ini dirasakan sebagai kekurangan.
d. Potensi Sumber Belajar
Di masyarakat teryata tersebar berbagai sumber belajar yang tidak terbilang banyaknya dan sumber belajar demikian dapat bersifat makhluk hidup maupun benda-benda mati
Orang-oang yang ahli, orang-orang yang pintar, orang-orang yang terampil penuh pengalaman merupakan sumber belajar yang bersifat manusiawi sedangkan kepustakaan desa, Koran, Majalah, Kaset, Film, dan bengkel kerja yang ada, merupakan sumber belajar yang bisa memperoleh ilham untuk menemukan kebutuhan yang berguna bagi seseorang.
Sumber-sumber belajar tersebut, memberi lapangan bagi penyelenggaraan pendidikan luar sekolah baik berupa kursus dan latihan yang selama ini belum mereka dapatkan dan alami

e. Keterlantaran Pendidikan Luar Sekolah
Pada mulanya orang telah menyelenggarakan berbagai kegiatan pendidikan yang pada hakikatnya menggunakan system di luar dunia sekolah dan dilaksanakan bersamaan denga pendidikan sekolah biasa, namun kegiatan-kegiatan banyak yang telah ditinggalkan orang
1 Masseducation pendidikan yang memberikan kecakapan
2 Adult Enducation
a. Pendidikan Lanjutan
b. Pendidikan Pembaruan
c. Pendidikan Kader Organisasi
d. Pendidikan Populer
3 Fundamental Education
 Kecakapan berfikir dan bergaul dan berumah tangga
 Kecakapan kerajinan dan kesenian
 Kecakapan kejujuran
 Pengetahuan tentang Lingkungan alam
 Pendidikan jiwa, akhlak dan kesehatan
4 Pendidikan Masyarakat
 Kursus dan Latihan
 Kumpulan Belajar
 Kelas Bebas
 Pama dan Pami
 Sekolah Keliling
5 Pendidikan kemasyarakatan dapat dicontohkan Balai Pengetahuan Rakyat
6 Extention Education
 Amerika Serikat dengan nama Defartemen of Continuation Education, University Extention Departement
 Inggris dengan nama Departemen of Extra Mural Studies



2 Alasan dari segi Analisa-Perspektif
a. Palestarian Indentitas Bangsa
Perubahan-perubahan yang bermakna ditekankan pada adanya isi perubahan yang berhubunhan dengan identitas bangsa yakni penerusan kebudayaan nasional dari satu generasi ke generasi selanjutnya
Tujuan perubahan ini menyangkut keselarasan dan keseniam perkembangan bangsa yang bersangkutan di tengah-tengah kemajuan zaman sekarang ini sehingga bangsa tersebut dapat hidup dan berperan aktif di dunia
Perubahan secara sistemtis dimaksudkan bahwa perubahan tersebut melalui langkah-langkah dan saluran-saluran sehingga perubahan dapat diarahkan dan dipertanggung jawabkan tercapainya tujuan yang diinginkan
b. Kecenderungan Belajar Individual-Madiri
Kecenderungan belajar seseorang tidak bisa dihalangi oleh siapapun dan keinginan untuk belajar ini dapat timbul kapan saja dengan tidak memendang Jenis Kelamin, Usia, Latar belakang pendidikan, tempat tinggal dan kecenderungan ini juga diperkuat oleh kemajuan ilmu dan teknologi seperti: Radio, Televisi, Mass media cetak dan kemudahan komunikasi antar daerah. Tersebarnya ahli pengetahuan yang lebih propesional semakin dapat memenuhi keinginan belajar mendiri.
3 Alasan dari Segi Formal-Kebijakan
a. Undang-undang Dasar 1945
1 Pembukaan UUD 1945 menyebutkan
Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social.
2 Batang tubuh UUD 1945 menyebutkan pula:
Pasal 31, ayat (1) : Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran”.
Pasal 31, ayat (2) : Pemerintah mengusahakan dan menyelengarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang”.
b. Garis-garis Besar Haluan Negara
1 Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat
2 Pendidikan juga menjangkau program-program luar sekolah yaitu pendidikan yang bersifat kemasyarakatan, termasuk kepramukaan, latihan-latihan keterampilan dan pemberantasan buta huruf dengan mendaya gunakan sarana dan prasarana yang ada
c. Pelita Ketiga
PLS merupakan salah satu subsistem dari satu sistem pendidikan nasional, yang turut membentuk manusia seutuhnya dan membina pelaksanaan konsep pendidikan seumur hidup. Kedua subsistem pendidikan sekolah dan luar sekolah, yang saling menunjang dan saling melengkapi

2.2 Definisi Pendidikan Luar Sekolah
Penbahasan tentang pendidikan luar sekolah memang merupakan hal yang menarik, karena:
1 Pendidikan luar sekolah merupakan sistem baru dalam dunia pendidikan yang bentuk dan pelaksanaanya berbeda dengan system sekolah yang sudah ada
2 Dalam pendidikan luar sekolah terdapat hal-hal yang sama-sama pentingnya bila dibandingkan dengan pendidikan luar sekolah, seperti: bentuk pendidikan, tujuannya, sasarannya, pelaksanaannya dan sebagainya.
3 Jadi dengan pendidikan luar sekolah telah terkandung semua unsure yang disyaratkan oleh sesuatu sistem seperti anak didik, pendidik, waktu, materi dan tujuan. Dengan sistem pendidikan luar sekolah berarti adanya suatu pola tertentu untuk melakukan pekerjaan / fungsi yakni mendidik, pekerjaan / fungsi mana berbeda dengan pekerjaan / fungsi system pendidikan formal.
4 Mengajar bagaimana caranya belajar
5 Peranan guru makin sebagai partner anak didik dalam hal belajar
6 Ada jalinan hubungan antara sekolah dengan masyarakat dan agar anak-anak tidak terasing dari masyarakat
7 Sekolah harus merupakan system nyang terbuka, bagi anak-anak. Dalam hubungannya dengan penerapan asas pendidikan seumur hidup “ sistem pendidikan di sekolah disebut multi ezit etry system ”. Sebab dalam asas pendidikan seumur hidup ini semua orang dapat saja disebutkan sebagai anak didik. Sehingga pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah dapat dipandang sebagai makro maupun mikro dalam hubungannya dengan sistem pendidikan.

2.3 Ciri-ciri Pendidikan Luar Sekolah
1. The diverse types of out-of school education are designed to accomplish many purposes
2. The boundary is a skifting one between what many be considered as formal education and these many complementary types of education.
3. Tanggung jawab penyelenggaraan lembaga pendidikan luar sekoalah di bagi oleh pengawasan umum / masyarakat, pengawasan pribadi atau kombinasi keduanya.
4. Beberapa lembaga pedidikan luar sekolah disiplinkan secara ketat tehadap waktu pengajaran, teknologi modern, kelengkapan dan buku-buku bacaan
5. Guru-guru mungkin dilatih secara khusus untuk tugas tertentu atau hanya mempunyai kualifikasi professional di mana tidak termasuk identitas guru
6. Penekanan pada penyebaran program teori dan praktek secara relatif dari pada pendidikan luar sekolah
7. Tidak seperti pendidikan formal, tingkat sistem pendidikan luar sekolah terbatas yang diberikan kredensial.

2.4 Sasaran Pendidikan Luar Sekolah
Adapun sasaran pendidikan luar sekolah dapat dibagi menjadi 2 sasaran pokok yaitu:
1 Pendidikan Luar Sekolah untuk Pemuda
a. Sebab-sebab timbulnya
1) Banyak anak-anak usia sekolah tidak memperoleh pendidikan sekolah yang cukup
2) Mereka memperoleh pendidikan yang tradisional
3) Mereka memperoleh latihan kecakapan khusus melalui pola-pola pergaulan
4) Mereka dituntut mempelajari norma-norma dan tanggung jawab sebagai sangsi dari masyarakat.
b. Kelompok-kelompok kegiatan pendidikan luar sekolah antara lain
1) Klub Pemuda
2) Klub-klub Pemuda tani
3) Kelompok Pergaulan
2 Pendidikan Luar Sekolah untuk orang Dewasa
Pendidikan ini timbul oleh karena:
a. Orang-orang dewasa tertarik terhadap profesi kerja.
b. Orang dewasa tertarik terhadap keahlian.
Dalam rangka memperoleh pendidikan di atas dapat ditempuh melalui:
1) Khursus-khursus Pendek
2) In Service-training
3) Surat-menyurat
Sesuai dengan rancangan Peraturan Pemerintah maka sasaran pendidikan luar sekolah dapat meliputi:
 Ditinjau dari Segi Sasaran Pelayan, berupa:
1) Usia Pra-Sekolah (0-6 tahun)
Fungsi lembaga ini mempersiapkan anak-anak menjelang mereka pergi sekolah (Pendidikan Formal) sehingga mereka telah terbiasa untuk hidup dalam situasi yang berbeda dengan lingkungan keluarga.
2) Usia Pendidikan Dasar (7-12 tahun)
Usia ini dilaksanakan dengan penyelenggaraan program kejar paket A dan kepramukaan yang diselenggarakan secara sesame dan terpadu
3) Usia Pendidikan Menengah (13-18 tahun)
Penyelenggaraan pendidikan luar sekolah untuk usia semacam ini diarahkan untuk pengganti pendidikan, sebagai pelenggkap dan penambah program pendidikan bagi mereka
4) Usia Pendidikan Tinggi (19-24 ntahun)
Pendidikan luar sekolah menyiapakan mereka untuk siap bekerja melalui pemberian berbagai keterampilan sehingga mereka menjadi tenaga yang produktif, siap kerja dan siap untuk usaha mandiri
 Ditinjau dari Jenis Kelamin
Program ini secara tugas diarahkan pada kaum wanita oleh karena jumlah mereka yang besar dan partisipasinya kurang dalam rangka produktivitas dan eferiensi kerja maka pendidikan luar sekolah membanntu mereka melalui program-program PKK, Program KB dan lain-lainnya
 Berdasarkan Lingkungan Sosial Budaya
Sasaran pendidikan luar sekolah dapat berupa:
1) Masyarakat Pendesaan
Masyarakat ini meliputi sebagian besar masyarakat Indunesia dan program diarahkan pada program-program mata pencarian dan projgran pendayagunaan sumber-sumber alam
2) Masyarakat Perkotaan
Masyarakat perkotaan yang cepat terkena perkembangan ilmu dan teknologi, sehingga masyarakat perlu memperoleh tambahan tersebut melalui pemberian informasi dan khursus-khursus kilat
3) Masyarakat Terpencil
Untuk itu masyarakat terpencil ini perlu ditolong melalui pendidikan luar sekolah yang mereka dapat mengikuti perkembangan dan kemajuan nasional
 Berdasarkan kekhususan Sasaran Pelajar
1) Peseta didik yang dapat digolongkan terlantar, seperti anak yatim piatu
2) Peserta didik yang karena berbagai sebab sosial, tidak dapat mengikuti program pendidikan persekolahan



 Berdasarkan Pranata
Dalam pendidikan luar sekolah memiliki pranata yang bermacam-macam seperti: pendidikan keluarga, pendidikan perluasan wawasan dasa dan pendidikan keterampilan

 Berdasarkan Sistem Pengajaran
Sistem Pengajaran dalam proses penyelenggaraan dan pelaksanaan program pendidikan luar sekolah meliputi:
1) Kelompok, organisasi dan lembaga
2) Mekenisme sosial budaya seperti perlombaan dan pertandingan
3) Kesenian tradisioanal, seperti wayang, ludruk, ataupun teknologi modern seperti televisi, radio, film, dan sebagaimana
4) Prasarana dan sarana seperti balai desa, masjid, gereja, sekolah dan alat-alat pelengkapan kerja.

 Berdasarkan Segi Pelembangan Program
Pelembagaan program yang dimaksud keseluruhan proses pengintegrasian anhtara program pendidikan luar sekolah dan perkembangan masyarakat
1) Program antara sektoral dan swadaya masyarakat seperti PKK, PKN, dan P2WKSS.
2) Kordinasi perencanaan dasa atau pelaksana program pembangunan
3) Tenaga pengarahan di tingkat pusat, propinsi, kabupaten, kecamatan dan desa

2.5 Wadah Kegiatan Pendidikan Luar Sekolah
1 Kursus
Kursus tetap memenuhi unsur belajar-mengajar seperti warga belajar, sumber belajar, program belajar, tempat belajar dan pasilitas. Sistem pengajaran dapat berupa ceramah, diskusi, latihan, praktek dan penugasan. Dan pada akhirnya kursus ada evaluasi untuk menentukan keberhasilan dalam Bentuk STTB
2 Kelompok Belajar
Kelompok belajar adalah lembaga kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu tergantung pada kebutuhan warga belajar. Program belajar dapat berupa paket-paket belajar dan dapat disusun bersama antara sumber belajar dan warga belajar
3 Pusat Pemagangan
Pusat pemagangan adalah suatu lembaga kegiatan belajar mengajar yang merupakan pusat kegiatan kerja atau bengkel sehingga peserta didik dapat belajar dan bekerja
Dalam hal ini ada 2 macam
a) Apprenti peship
b) Internaship
4 Pusat Kegiatan Belajar
PKB terdapat di dalam masyarakat lyas seperti pesantren, perpustakaan, gedung kesenian, took, rumah ibadat, kebun percobaan dan lain-lain lembega-lembaga tersebut para peserta dapat memperoleh proses belajar-mengajar sesuai yang mereka inginkan
5 Keluarga
Keluarga adalah lembaga pertama dan utama yang dialami oleh seseorang dimana proses belajar yang terjadi tidak berstruktur dan pelaksanaannya tidak terikat oleh waktu. Program ini meliputi: nilai-nilai sosial-budaya, sosial politik, agama, idielogi, dan pertahanan keamanan.
6 Belajar Sendiri
Di pihak lain setiap individu dapat belajar sendiri di manapun dan kapanpun melalui buku-buku bacaan ilmiah, modul, buku paket belajar dan sebagainya
7 Kegiatan-kegiatan Lain
Kegiatan ini dapat meliputi penyuluhan, seminar, dakwah, lokakarya, diskusi panel dan sebgainya


BAB III
KONTRIBUSI

3.1 Kajian Secara Teoritis
Kajian secara teoritis pada makalah yang berjudul “ Pendidikan Luar Sekolah” ini yaitu. Fundamental Education artinya Pendidikan Dasar yang dilancarkan sendiri oleh UNESCO, terutama menolong masyarakat untuk mencapai kemajuan sosial-ekonomi, agar dengan demikian mereka dapat menduduki tempat yang lanyak dalam dunia modern. Pendidikan ini jelas ditujukan kepada masyarakat dan daerah yang terbelakang agar masyarakat dan daerah ini dapat menyamai dengan masyarakat sekitarnya yang telah maju

3.2 Kajian Secara Praktis
Kajian secara praktis pada makalah ini yaitu wahana untuk meleksanakan program-program belajar dalam usaha menciptakan suasana menunjang perkembangan peserta didik dalam kaitanya dengan perluasan wawasan peningkatan keterampilan dan kesejahteraan keluarga. Adapun bentuk-bentuknya yaitu:
a. Kursus
b. Kelompok Belajar
c. Pusat Pemagangan


BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pendidikan luar sekolah disebut juga suatu sistem pendidikan yang didalamnya terdapat keumpalan komponen (unsur-unsur) yang saling berhungan dan diorganisir untuk mencapai tujuan. Jadi dengan pendidikan luar sekolah telah terkandung semua unsur yang disyaratkan oleh suatu sistem seperti anak didik, pendidik, waktu, materi dan tujuan
Dengan sistem pendidikan luar sekolah berarti adanya suatu pola tertentu untuk melakukan pekerjaan / fungsi yakni mendidik, pekerjaan / fungsi mana berbeda dengan perjaklanan / fungsi sistem pendidikan formal. Misalnya, sekolah tidak lagi bertugas utama memberikan pelajaran yang berupa faktor-faktor dan pengetahuan hafalan kepada murid dan sekolah tidak lagi merupakan sistem tertutup. Artinya sekolah hendaknya selalu memberi kesempatan pada anak setiap saat untuk memperoleh pendidikan, sehingga: sekolah harus merupakan sistem yang terbuka bagi anak-anak

4.2 Saran
Sebagai suatu proses yang dinamis, pendidikan akan senantiasa berkembang dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan yang terjadi di lingkungan umumnya. Salah satu ciri dari perkembangan pendidikan adalah adanya perubahan-perubahan dalam berbagai komponen sistem pendidikan seperti kurikulum strategi belajar-mengajar, alat bantu mengajar, sara dan prasarana, sumber-sumber dan sebagainya. Perkembangan ini sudah tentu akan mempengaruhi kehidupan para siswa baik dalam bidang akademik, sosial maupun pribadi
Oleh karena itu para siswa diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan setiap perkembangan pendidikan yang terjadi untuk mencapai sukses yang berarti dalam keseluruhan proses belajar.




DAFTAR PUSTAKA

Joesoef, Prof Drs. Soeleiman. 1992. Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah. Bumi Aksara. Jakarta

lirik lagu party rock anthem LMFAO

PART ROCK

YEA

Wooo!!!!

LETS GO!!

Party rock is in the house tonight

Everybody just have a good time

And we gonna make you lose your mind

Everybody just have a good time [X2]



We just wanna see yaa!



Shake That !



In the club party rock look up on your girl

She on my jock non stop when we in the spot

Booty move away like she on the block

What the track I gots to know

Top jeans tatto cause I’m rock and roll

Half black half white diamino

Gane the money out the door



Yoooo!!

I’m runnin through these hoes like drano

I got that devilish flow rock and roll no halo

We party rock yea! that’s the crew that I’m reppin

On the rise to the top no led in our zeppelin

Hey!!!



Party rock is in the house tonight

Everybody just have a good time

lyricsalls.blogspot.com

And we gonna make you lose your mind

Everybody just have a good time [X2]



We just wanna see yaa!



Everyday I’m shuffelin



Shuffelin shuffelin



Step up fast and be the first girl to make me throw this cash

We get money don’t be mad now stop hatein is bad



One more shot for us

Another round

Please fill up my cup

Don’t mess around

We just wanna see

You shake it now

Now you wanna be

Your naked now



Get up get down put your hands up to the sound [X3]

Put your hands up to the sound [X2]

Get up [X9]

Put your hands up to the sound

To the sound

Put your hands up !!!!!



Party rock is in the house tonight

Everybody just have a good time

And we gonna make you lose your mind

Everybody just have a good good good time



Ohhhhh!!Ohhhhhh!!!Ohhhhhh!!!Ohhh!

Jumat, 22 Juli 2011

contoh proposal

PENGARUH KEMAMPUAN KERJA KARYAWAN DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP PRESTASI KERJA KARYAWAN PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM KABUPATEN KUPANG

A. LATAR BELAKANG
Semakin berkembangnya dunia bisnis saat ini, semakin ketat pula persaingan yang terjadi di antara perusahaan. Persaingan itu, terjadi baik di dalam negeri maupun bisnis global. Globalisasi memang telah menjadi fenomena baru yang mampu membawa perubahan di segala bidang, baik ilmu pengetahuan dan teknologi, sosial, budaya maupun bidang ekonomi. Dalam bidang ekonomi mempunyai dampak yang cukup besar bagi perusahaan-perusahaan industri di Indonesia, baik perusahaan perdagangan maupun perusahaan jasa. Perubahan tersebut sangat berdampak terhadap kondisi persaingan yang semakin ketat pada dunia bisnis. Dengan demikian perusahaan harus mempunyai keunggulan bersaing dalam hal kualitas produk dan pelayanan. Untuk itu sangat di perlukan sumber daya manusia yang berkualitas.
Untuk dapat mencapai tujuan tersebut di atas, sumber daya manusia sebagai penentu haruslah diperhatikan dengan baik karena merupakan sumber daya terpenting dalam suatu organisasi yang mencurahkan bakat, tenaga, kreatifitas, dan usaha kepada organisasi. Menurut Handoko (1998:21) tanpa orang-orang yang cakap, organisasi dan manajemen akan gagal mencapai tujuannya. Orang cakap adalah orang yang berprestasi baik. Dengan prestasi yang baik bukan saja individu yang beruntung, akan tetapi organisasi juga akan mendapatkan keuntungan. Menurut Hasibuan (2000:18) mengatakan bahwa prestasi kerja adalah hasil kerja yang dapat di pertanggungjawabkan kualitas maupun kuantitas dan bekerja secara efektif dan efisien.

Rendahnya prestasi kerja seringkali disebabkan karena kurangnya kemampuan kerja, yang disebabkan oleh kurangnya pengalaman di bidang kerja yang tentunya hal ini akan mempengaruhi profesionalismenya. Oleh karena itu, faktor kemampuan dari seorang karyawan menjadi sangat penting dan perlu di pertimbangkan dalam melakukan suatu pekerjaan. Kemampuan kerja seseorang dapat di katakan baik bila dapat menyelesaikan tugasnya dengan efektif dan efisien. Seorang karyawan dapat mencapai hasil kerja yang memuaskan dalam melakukan suatu pekerjaan tergantung pada kemampuannya.
Kemampuan yang dimaksud di sini adalah kemampuan mental dan kemampuan fisik (Sigit 2003 : 25) Kemampuan mental adalah kemampuan yang di perlukan untuk melakukan kegiatan mental, sedangkan kemampuan fisik adalah kemampuan yang di perlukan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, kecekatan, kekuatan dan ketrampilan. Untuk memperoleh kemampuan tersebut di atas tentunya juga harus di dasari dengan pendidikan dan pengalaman kerja yang akan memudahkan seorang karyawan untuk melakukan sesuatu.
Seperti halnya kemampuan, lingkungan kerja juga mempengaruhi prestasi kerja karyawan. Lingkungan kerja dapat di bagi dua, yaitu lingkungan didalam tempat kerja atau yang biasa disebut lingkungan organisasi dan lingkungan di luar tempat kerja yang merupakan kekuatan yang berada di luar organisasi yang mempengaruhi organisasi, khususnya perilaku kerja karyawan, (Chori , 1999: 79).





Menurut Stoner (1996:63) mengatakan bahwa kondisi tempat kerja juga sangat menentukan prestasi kerja karena pada dasarnya karyawan itu bukan mesin yang tanpa hati. Keadaan yang di maksud di sini adalah tempat kerja yang baik dan nyaman, fasilitas yang mendukung dan perlakuan yang di terima juga harus menyenangkan bagi karyawan. Semakin bagus kualitas seseorang, maka semakin tinggi harapannya tentang kondisi lingkungan kerja yang baik. Lingkungan kerja merupakan keadaan yang sangat menentukan adanya kelancaran suatu pekerjaan.
Apabila lingkungan kerja memungkinkan, maka akan menjadikan suatu tempat yang baik dan menyenangkan dalam melakukan atau menjalankan aktifitas kerja bagi para pekerja. Keadaan yang demikian dapat mengurangi rasa jenuh dan lelah. Selain hal di atas, menurunnya prestasi kerja juga di pengaruhi oleh kondisi lingkungan kerja. Karyawan merasa terganggu akibat tempat kerja sekelilingnya yang kurang nyaman, suasana yang bising. Di samping itu juga suasana kerja yang kurang kondusif. Hal ini terlihat dengan masih terjadinya komunikasi yang kurang harmonis antara atasan dengan bawahan dan antara bawahan dengan bawahan.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik melakukan penelitian tentang peningkatan prestasi kerja karyawan melalui keterpaduan antara peningkatan kemampuan kerja dan penciptaan lingkungan kerja yang kondusif, khususnya mengenai pengetahuan dan pengalaman kerja, tempat kerja dan perlakuan yang diterima. Data yang di peroleh dari Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kupang di temukan bahwa sering terjadi pengaduan-pengaduan yang datang dari masyarakat tentang pelayanan yang kurang memuaskan. Kebanyakan pengaduan tersebut adalah seringnya terjadi pipa-pipa yang bocor, kemacetan air yang kurang begitu di perhatikan oleh pihak PDAM.

Ada beberapa contoh kasus yang terjadi seperti di kompleks Rumah Sangat Sederhana (RSS) beberapa waktu yang lalu terjadi kerusakan atau kebocoran pipa air yang menyebabkan air mengalir dan membuat becek sehingga aktifitas wargapun sedikit terganggu. Hal ini sudah di laporkan pada pihak PDAM tetapi tidak langsung di respon sehingga warga merasa kesal. Hampir sama pula dengan apa yang terjadi pada kelurahan Fatululi, tepatnya di samping kantor kelurahan itu sendiri terjadi kebocoran pipa air, akan tetapi tidak langsung di tanggapi oleh pihak PDAM dan kebocoran tersebut berlangsung hampir seminggu. Untuk memperkuat contoh kasus tersebut, berikut akan di jelaskan hasil rekapitulasi laporan kemacetan air dan kerusakan pipa pelanggan dari bulan maret sampai bulan mei 2010 wilayah 1 sampai 10. Untuk kemacetan air, pengaduan yang datang berjumlah 246 laporan, pengaduan yang sudah di kerjakan berjumlah 173 laporan, sedangkan yang belum di kerjakan berjumlah 73 laporan.
Untuk kerusakan pipa, pengaduan yang datang berjumlah 92 laporan, pengaduan yang sudah di kerjakan berjumlah 60 laporan, sedangkan yang belum di kerjakan 32 laporan.(sumber, data sekunder PDAM Kabupaten Kupang). Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kupang merupakan sebuah perusahaan milik Daerah yang lazim disebut Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang unitnya berada di Kupang. Mempunyai fungsi dan tugas pokok sebagai unit pelayanan air bersih bagi masyarakat di wilayah Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih.
Dalam proses pengelolaan air masih banyak hambatan-hambatan yang di alami baik segi teknis maupun non-teknis, di antaranya adalah pelayanan yang tidak merata, banyak terjadi kerusakan pipa air (bocor atau patah) yang hal ini merupakan beban tanggung jawab yang harus di perhatikan oleh pihak PDAM.
Oleh karena itu sumber daya manusia yang berkualitas merupakan tolak ukur yang akan menentukan keberhasilan perusahaan. Oleh karena itu Judul penelitian ini adalah : “ Pengaruh Kemampuan Kerja Karyawan Dan Lingkungan Kerja Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kupang ”

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian adalah : “ Pengaruh kemampuan kerja karyawan dan lingkungan kerja terhadap prestasi kerja karyawan pada Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kupang ”

C. PERSOALAN PENELITIAN
Mengacu pada rumusan masalah diatas maka yang menjadi persoalan penelitian adalah:
1. Bagaimana kemampuan kerja, lingkungan kerja dan prestasi kerja karyawan pada Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kupang?
2. Bagaimana pengaruh kemampuan kerja dan lingkungan kerja terhadap prestasi kerja karyawan pada Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kupang?

D. TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN
1. Tujuan penelitian
Berdasarkan pada perumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui kemampuan kerja, lingkungan kerja dan prestasi kerja karyawan pada Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kupang.
b. Untuk mengetahui pengaruh kemampuan kerja dan lingkungan kerja terhadap Prestasi kerja karyawan pada Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kupang.
2. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat akademis maupun praktis sebagai berikut :
1. Manfaat Akademis
a. Dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan teori sumber daya manusia, khususnya tentang kemampuan kerja, lingkungan kerja, dan kaitannya dengan peningkatan kerja karyawan.
b. Dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang akan mengadakan penelitian di bidang pengembangan sumber daya manusia.
2. Manfaat Praktis
Diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi manajemen Perusahaan Daerah Air Minum Kab. Kupang dalam membuat kebijakan yang menyangkut peningkatan prestasi kerja karyawan dalam rangka untuk pencapaian tujuan perusahaan.





E. LANDASAN TEORI
Dalam rangka analisis penelitian ini penulis akan mengemukakan beberapa teori dan pengertian yang di ambil dari beberapa literatur yang memuat pendapat para ahli sehingga dapat persamaan pandangan dan persepsi agar tidak menimbulkan penafsiran yang keliru terhadap penelitian ini :
1. Kemampuan Kerja
1.1. Pengertian Kemampuan Kerja
Keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya satu di antaranya di tentukan oleh tingkat kesanggupan karyawan dalam melaksanakan tugasnya masing-masing. Salah satu faktor dari kesanggupan karyawan tersebut adalah kemampuan kerja karyawan seperti yang di kemukakan di depan. Seorang karyawan dapat mencapai hasil kerja yang memuaskan dalam melakukan suatu pekerjaan tergantung pada kemampuannya. Menurut Amstrong (1990:17) menyatakan bahwa tingkat kemampuan akan mempengaruhi bukan saja prestasi kerja, tetapi juga kepuasan kerja dan keinginan untuk tetap mempertahankan pekerjaannya.
Menurut Robbins (1999:87) Kemampuan adalah suatu kapasitas individu untuk mengerjakan berbagai tugas dari suatu pekerjaan. Sedangkan Sigit (2003:25) Kemampuan adalah pengorbanan untuk mencapai tujuan, maka semakin efesien, sebaliknya semakin besar pengorbanan, maka di katakan tidak efisien.


Sigit (2003:25) membagi dua jenis kemampuan yaitu kemampuan mental dan kemampuan fisik. Kemampuan mental adalah kemampuan yang di perlukan untuk melakukan kegiatan mental, sedangkan kemampuan fisik adalah kemampuan yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, kecekatan, kekuatan dan ketrampilan berupa:
Kemampuan mental yang terdiri atas :
a) Kemampuan menangkap sesuatu dan membuat konfigurasi dalam pikiran.
b) Kelancaran dalam membuat kata-kata, ide-ide dan pertanyaan-pertanyaan lisan.
c) Berpikir induktif, yaitu kemampuan mengambil kesimpulan dari pengalamannya.
d) Memori asosiatif, yaitu kemampuan mengingat dan menghubung-hubungkan dengan sempurna yang menurut orang lain tidak ada hubunganya.
e) Menentang memori, yaitu kemampuan mengingat secara sempurna dan produksinya kedalam suatu rangkaian butir-butir sesusah di presentasikan hanya satu kali saja oleh orang lain.
f) Kelancaran menghitung angka.
g) Kecepatan dan ketepatan dalam mempersepsi.
h) Kemampuan berpikir deduktif, yaitu kecepatan dalam mengambil kesimpulan atas dasar-dasar hukum yang ada.
i) Pendalaman Verbal, yaitu kemampuan memiliki banyak kata-kata dan kemampuan mengaplikasikan.
Adapun kemampuan fisik meliputi :
a) Kekuatan dinamis, yaitu kekuatan otot tanpa istirahat secara terus – menerus dalam waktu yang relatif lama.
b) Keluwesan ekstensi, yaitu kemampuan untuk meluruskan otot-otot dan pinggang.
c) Koordinasi tubuh, yaitu kemampuan membuat keseimbangan dan bagian-bagian tubuh yang tampak.
d) Stamina, yaitu kapasitas untuk memelihara upaya secara maksimal yang di perlukan.
Menurut Siagian (1996:134) Kemampuan merupakan seperangkat pengetahuan (intelektual) dan ketrampilan sebagai keahlian yang di miliki seseorang yang di peroleh melalui proses belajar dan pengalaman. Antara lain adalah;
a) Kemampuan fisik, yakni kemampuan belajar dari pengalaman kerja atau pendidikan.
b) Kemampuan intelektual, yakni kemampuan seseorang yang di peroleh atau yang di pengaruhi oleh proses belajar, baik melalui proses pendidikan dan non formal.



Furtunanto (1981:37), mengatakan bahwa pendidikan dan pengalaman merupakan langkah awal untuk melihat kemampuan seseorang. Dierlein dan Bob (1997:56), mengatakan bahwa untuk mengetahui kemampuan seorang karyawan dapat melalui pengalaman yang pernah di lakukan. Untuk memperoleh kemampuan dalam melaksanakan pekerjaan dapat melalui pendidikan yang relevan dengan pekerjaan. Jadi untuk mengetahui kemampuan kerja dapat di lihat dari tingkat pendidikan dan pengalaman kerja.

2. Lingkungan Kerja.
2.1. Pengertian Lingkungan Kerja
Analisis tentang perilaku baik pada tingkat individu, kelompok, maupun organisasi adalah penting jika mempertimbangkan faktor lingkungan. Sesuai dengan pendapat Gitodarmo dan Sudita (1997:241), bahwa rendahnya produktifitas, karyawan yang malas, seringnya karyawan tidak masuk kerja, kelambanan dalam penyelesaian unjuk rasa dan masalah organisasi lainnya, memerlukan analisis lebih dari sekedar analisis tingkat individu, tetapi juga lingkungan.




Hal ini sejalan dengan apa yang di katakan Heijrachman dan Husnan (1997:59), bahwa segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan. Selanjutnya Taggiuri (dalam Mcfarlan,1984:12), menyatakan bahwa linkungan kerja merupakan kualitas lingkungan internal yang secara relatif, terus-menerus meningkat yang di rasakan oleh anggota-anggotanya, mempengaruh perilaku mereka dan dapat di gambarkan menurut seperangkat nilai-nilai karakteristik tertentu dari organisasi.
Davis dan Newstrom (1996:37), menyatakan ada dua faktor penting harus di perhatikan dari lingkungan kerja,yaitu tempat kerja (workplace) itu sendiri dan perlakuan yang di terima dari manajemen. Karyawan merasakan bahwa iklim tertentu menyenangkan bila mereka melakukan sesuatu yang berguna dan memberikan rasa kemanfaatan pribadi. Lingkungan kerja dapat mempengaruh motivasi dan keputusan kerja, karena lingkungan tersebut dapat membentuk harapan karyawan tentang konsekuensi yang akan timbul dari berbagai tindakan.
Tempat kerja sendiri di bagi menjadi dua, yaitu lingkungan di dalam tempat kerja dan lingkungan di luar tempat kerja yang secara nyata dapat mempengaruhi prestasi kerja.




3. Prestasi Kerja Karyawan
3.1. Pengertian Prestasi Kerja karyawan
Menurut Hasibuan (2008:8), menyatakan bahwa prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang di capai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang di bebankan kepadanya yang di dasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan. kemudian Dharma (1991:12), menyebutkan bahwa prestasi kerja adalah sesuatu yang di kerjakan, produk atau jasa yang di hasilkan atau yang di berikan seseorang atau sekelompok orang. Menurut As’ ad (1998:23), bahwa yang di maksud dengan prestasi kerja adalah hasil yang di capai oleh seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan yang bersangkutan.
Simamora (2000:423), menyatakan bahwa prestasi kerja di artikan sebagai suatu pencapaian persaratan pekerjaan tertentu yang akhirnya secara langsung dapat tercermin dari output yang di hasilkan baik kuantitas maupun kualitas. Pengertian diatas menyoroti kinerja berdasarkan hasil yang di capai seseorang setelah melakukan pekerjaan. Menurut Lembaga Administrasi Negara (LAN) dalam Sedarmayanti (2001:50), mengemukakan bahwa performance di terjemahkan menjadi kinerja, juga berarti prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja atau unjuk ketrampilan atau penampilan kerja. Sedangkan Agust W Smith, dalam Sedarmayanti menyatakan bahwa performance atau prestasi kerja merupakan hasil atau keluaran dari suatu proses.

Berbeda dengan Nawawi (1997:134), menyebutkan prestasi kerja, sama dengan istilah “karya”. Prestasi kerja atau karya adalah hasil pelaksanaan suatu pekerjaan, baik bersifat fisik atau material, maupun non fisik atau non material. Menurut As’ ad (1995:46), prestasi kerja adalah hasil yang di capai seseorang menurut ukuran yang berlaku terhadap pekerjaan yang bersangkutan. Jadi prestasi kerja merupakan hasil atau taraf kesuksesan yang dicapai oleh seseorang tenaga kerja baik yang bersifat kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif.

3.2 Penilaian Prestasi Kerja
Simamora (2000:107), menyatakan bahwa penilaian prestasi kerja merupakan alat yang berfaedah tidak hanya untuk mengevaluasi kerja dari para karyawan, tetapi juga untuk mengembangkan dan memotivasi kalangan karyawan. Dalam penilaian prestasi kerja tidak hanya semata-mata menilai hasil fisik, tetapi pelaksanaan pekerjaan secara menyeluruh yang menyangkut berbagai bidang seperti kemampuan, kerajinan, disiplin, hubungan kerja atau hal-hal khusus sesuai bidang tugasnya yang semuanya layak untuk dinilai. Untuk itu ada beberapa unsur penilaian prestasi kerja yang berorientasi individu, yaitu :
a) Pengabdian
b) Kejujuran
c) Kesetiaan
d) Prakarsa
e) Kemauan bekerja
f) Kerja sama
g) Prestasi kerja
h) Pengembangan
i) Tanggungjawab
j) Disiplin kerja
k) Kreatifitas
l) Kepemimpinan
m) Kepribadian
n) Kecakapan
Rocky dalam Suseno (2006:7) dan Hasibuan (1996:95)
Untuk dapat mengetahui apakah karyawan memiliki prestasi kerja yang baik atau tidak dapat di lihat dengan melakukan penilaian terhadap prestasi kerjanya. Hasibuan (2000:44), mengatakan prestasi kerja adalah hasil kerja yang dapat di pertanggungjawabkan kualitas maupun kuantitas dan bekerja secara efektif dan efisien. Hal ini menunjukan bahwa karyawan dapat memanfaatkan waktu dan mempergunakan alat-alat dengan baik. Tentang penilaian prestasi kerja, Dharma (1991:33), menyatakan bahwa banyak cara penilaian yang di gunakan seperti penghematan kesalahan dan sebagainya. Tetapi hampir seluruh cara penilaian prestasi kerja mempertimbangkan kualitas, kuantitas dan ketetapan waktu.



Dari pendapat yang telah di ungkapkan tersebut dapat di simpulkan bahwa untuk melakukan pengukuran prestasi kerja dapat di lihat dari kuantitas dan kualitas pekerjaan. Dari uraian tersebut bahwa ukuran prestasi kerja atau produkvitas kerja adalah suatu ukuran sejauh mana sumber-sumber daya di pergunakan dengan baik dapat mewujudkan hasil-hasil tertentu yang di inginkan. Hasil-hasil yang di capai mencakup pengertian kuantitatif dan kualitatif.

3.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi kerja.
Para pimpinan perusahaan sangat menyadari adanya perbedaan prestasi kerja antara satu karyawan dengan karyawan lain yang berada di bawah pengawasan. Walaupun karyawan-karyawan bekerja pada tempat yang sama namun prestasi kerja mereka tidak sama. Secara garis besar perbedaan prestasi kerja ini di sebabkan oleh dua faktor yaitu: faktor individu dan situasi kerja (As’ad (1995:49).
Menurut Gibson (dalam Suseno,2006:19), ada dua perangkat variabel yang mempengaruhi perilaku dan prestasi kerja atau kinerja, yaitu:
a) Variabel individual, terdiri dari: a) kemampuan dan ketrampilan: mental dan fisik. b) latar belakang: keluarga, tingkat sosial, penggajian. c) demografis: umur, asal-usul, jenis kelamin.
b) Variabel organisasional, terdiri dari: a) sumber daya, b) kepemimpinan, c) imbalan, d) desain pekerjaan.

F. KONSEP PENELITIAN
Berdasarkan pada uraian diatas maka ada beberapa konsep dalam penelitian ini adalah :
1. Kemampuan Kerja
Yang dimaksud kemampuan kerja dalam penelitian ini adalah suatu kapasitas individu untuk mengerjakan berbagai tugas dari suatu pekerjaan yang di bebankan kepadanya.
2. Lingkungan Kerja
Yang dimaksud lingkungan kerja dalam penelitian ini adalah kualitas fisik tempat kerja dan suasana hubungan kerja baik antara atasan dengan bawahan maupun antara bawahan dengan bawahan.
3. Prestasi Kerja
Yang dimaksud dengan prestasi kerja dalam penelitian ini adalah hasil kerja yang di capai seseorang dalam melaksanakan tugas yang di berikan kepadanya.

G. KERANGKA DASAR PEMIKIRAN
Kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah bahwa prestasi kerja karyawan merupakan hasil kerja yang dapat di capai karyawan baik secara individu maupun kelompok yang tentunya tidak akan dapat dicapai dengan sendirinya tanpa pengaruh dari peningkatan kemampuan dan penciptaan lingkungan kerja yang kondusif. Kemampuan kerja merupakan faktor yang mempengaruhi prestasi kerja karyawan. Apabila karyawan tidak mempunyai kemampuan yang memadai, maka prestasi kerjanya tentu akan menurun.
Kemampuan kerja dapat ditunjang dengan pendidikan yang cukup dan memadai. Karena semakin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin pula orang tersebut tahu tentang banyak hal. Selain pendidikan , pengalaman kerja juga sangat mempengaruhi kemampuan kerja. Pengalaman kerja yang banyak akan memudahkan bagi seseorang untuk melakukan pekerjaan, bahkan ia mungkin hanya memerlukan sedikit tenaga dan pikiran dalam bekerja di bandingkan dengan orang yang tidak berpengalaman.
Faktor lingkungan juga berpengaruh terhadap prestasi kerja karyawan. Ada dua indikator dalam lingkungan kerja yang mempengaruhi prestasi kerja, antara lain: tempat kerja dan perlakuan yang diterima. Tempat kerja misalnya: suasana yang bising, keadaan kantor yang kurang bagus, ruangan yang berdebu, ruangan yang panas dan tidak ber- AC mungkin saja juga mempengaruhi gairah kerja dari karyawan. Begitu pula dengan perlakuan yang diterima karyawan, baik itu dari pimpinan perusahaan yang kurang bersahabat karyawan atau antar sesama karyawan yang kurangnya interaksi, akan memicu rendahnya prestasi kerja. Sehingga faktor – faktor tersebut haruslah di perhatikan dengan cermat demi kelancaran dan kesuksesan perusahaan.
Dari uraian di atas dapat di gambarkan secara sistematis hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat sebagai kerangka dasar dalam penelitian ini yang terdiri dari : variabel bebas (X1) : kemampuan kerja dan (X2) : lingkungan kerja. Sedangkan pestasi kerja sebagai variabel terikat (Y).








Gambar 1. Skema Kerangka Berpikir









H. HIPOTESIS PENELITITAN
Berdasarkan kajian teoritik di atas dapat di rumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :
Di duga terdapat pengaruh positif dari Kemampuan Kerja dan Lingkungan Kerja terhadap Prestasi Kerja.
Hipotesis statistik :
Ho : b1 = b2 = 0
Ha : b1 > b2 > 0





I. POPULASI DAN SAMPEL
1. Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh pegawai atau karyawan Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kupang yang berjumlah 136 orang. Berikut ini akan disajikan perincian data populasi penelitian yaitu :
Tabel 1.1 Data Perincian Populasi Penelitian
No Kelompok Populasi Jumlah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Sub bagian Baca Meter dan Rekening
Sub bagian Humas dan Pengaduan
Sub bagian Penagihan Tunggakan
Sub bagian Umum dan Personalia
Sub bagian Pendapatan
Sub bagian Pengadaan dan Gudang
Sub bagian Perencanaan Teknik dan Penyambungan
Sub bagian Transmisi dan Distribusi
Sub bagian Peralatan Meter 26
5
5
12
22
3
8
48
7
Total 136
Sumber : Data sekunder jumlah pegawai Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kupang
2. Sampel
Penarikan sampel di lakukan dengan menggunakan metode Proportional Random Sampling dan untuk menentukan besaran sampel menggunakan rumus Yamane (Djalaluddin Rahmat, 2002 : 85). sebagai berikut :
n=
Di mana :
N = Ukuran/besarnya populasi
n = Ukuran/besarnya sampel
d = Sampling error = 0,05
1 = Angka konstan

 Berdasarkan rumus di atas maka jumlah sampel diterapkan sebagai berikut:
n= =


Sampel penelitian tersebut di alokasikan terhadap beberapa unit kerja/bagian sebagai sup-populasi. Adapun proporsional yang di pakai adalah dengan mengunakan rumus Yamane (Djalaluddin rahmat, 2002:85)
sebagai berikut :

Keterangan :
ni = Besarnya sampel pada strata ke-i
Ni = Besarnya populasi pada strata ke- i
N = Besarnya populasi keseluruhan
n = Besarnya ukuran sampel







Berdasarkan rumus di atas maka distribusi sampel dalam penelitian sebagai berikut :
Tabel 1.2 Sampel Penelitian
No Bagian Populasi Sampel
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Sub bagian Baca Meter dan Rekening
Sub bagian Humas dan Pengaduan
Sub bagian Penagihan Tunggakan
Sub bagian Umum dan Personalia
Sub bagian Pendapatan
Sub bagian Pengadaan dan Gudang
Sub bagian Perencanaan Teknik dan Penyambungan
Sub bagian Transmisi dan Distribusi
Sub bagian Peralatan Meter 26
5
5
12
22
3
8
48
7 19
4
4
9
16
2
6
36
5
Total 136 101
Sumber : Data sekunder jumlah pegawai Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kupang, yang
sudah diolah


J. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
a. Kuesioner
- Untuk lingkungan kerja, kuesioner ditujukan kepada karyawan yang menjadi sampel penelitian.
- Untuk kemampuan kerja dan prestasi kerja, kuesioner ditujukan kepada atasan langsung dari karyawan yang menjadi sampel penelitian.

K. KONSEP, INDIKATOR EMPIRIK DAN SKALA PENGUKURAN
Untuk melihat secara jelas mengenai indikator-indikator empirik dari konsep-konsep penelitian ini, maka dapat disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut :



Tabel 1.3 Konsep, Varibael, Indikator Empirik, dan Skala Pengukuran
No Konsep Indikator Empirik Skala Pengukuran
1. Kemampuan kerja - Pemahaman terhadap pekerjaan
- Keterampilan melaksanakan pekerjaan
- Lama waktu kerja
- Adanya pelatihan-pelatihan
- Lamanya karyawan bekerja
Ordinal
2. Lingkungan kerja - Ketenangan tempat kerja
- Kebersihan tempat kerja
- Kenyamanan tempat kerja
- Kesejukan tempat kerja
- Hubungan dengan atasan
- Hubungan dengan sesama karyawan
Ordinal
3. Prestasi kerja - Pencapaian kerja
- Ketepatan melaksanakan pekerjaan
- Ketelitian melaksanakan pekerjaan
- Keandalan dalam mengikuti instruksi
- Keandalan dalam berinisiatif
- Keandalan dalam kehati-hatian
- Keandalan dalam kerajinan
- Sikap terhadap karyawan lain
- Sikap terhadap pekerjaan
- Sikap terhadap kerjasama
Ordinal


L. TEKNIK ANALISIS DATA
1. Analisis Pendahuluan
Analisis pendahuluan ditujukan untuk mendeskripsikan indikator-indikator empirik dari konsep-konsep kemampuan kerja, lingkungan kerja dan prestasi kerja berdasarkan data penelitian yang dikumpulkan dengan teknik kuesioner. Teknik analisis yang digunakan adalah distribusi frekuensi.
2. Analisis Lanjutan
Pada analisis lanjutan akan dianalisis pengaruh kemampuan kerja dan lingkungan kerja terhadap prestasi kerja. Teknik analisis yang digunakan adalah Regresi Linear berganda dengan bentuk persamaan :
Y = a + b1 X1 + b2 X2+ e
di mana:
Y = Prestasi kerja
a = Konstanta
b1,b2 = Koefisien regresi
X1 = Kemampuan kerja
X2 = Lingkungan kerja
e = Faktor pengganggu di luar model
Pengujian statistik yang digunakan sebagai berikut:
a. Untuk uji signifikansi pengaruh bersama kemampuan kerja dan lingkungan kerja terhadap prestasi kerja dipergunakan Uji F dengan rumus:
F=
di mana:
R2 = Koefisien determinasi
k = Banyaknya prediktor
n = Banyaknya sampel
Kriteria keputusan adalah Ha di terima apabila Fhitung lebih besar dari Ftabel ( Fhitung  Ftabel ) atau tingkat signifikansi / probabilita (p) lebih kecil dari alpha (p   ) demikian pula sebaliknya Ha di tolak dan Ho di terima jika Fhitung  Ftabel atau p  . Alpha ( α ) ditetapkan 0,05

b. Untuk hipotesi :
Dipergunakan uji T, dengan rumus:
t =
di mana :
B = Koefisien regresi untuk masing-masing variabel X
Sb = Standar eror koefisien regresi.
Kriteria keputusan adalah Ha di terima apabila Thitung lebih besar dari Ttabel (Thitung  TS











DAFTAR PUSTAKA
Amstrong,Michael
1990. Seri pedoman Sumber Daya Manusia. Alih bahasa Sofyan Cikmat dan Hariyanto. Elex Media Komputindo, Jakarta.
As, ad Moh.
1998. Psikologi Industri. Penerbit Lembaga Manajemen, Akademik Manajemen Perusahaan YKPN, Yogyakarta.
Chori, Muhamad.
1999. Faktor Individu dan Faktor Lingkungan Sebagai Pembentuk Perilaku Kerja Karyawan serta Pengaruhnya Terhadap Kinerja, Thesis Pascasarjana Unibraw, Malang.
Darma, Agus
1991. Manajemen Prestasi Kerja,Rajawali,Jakarta.
Davis,Keith, Newstrom, J.W.
1996. Perilaku Dalam Organisasi. Jilid 1. Alih bahasa Agus Dharma, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Dierlein and Bob
1996. Pop Quiz; How To Page Productive Mechanic. Journal World Waster (WWA) Vol : 39,155 :page 13 – 15.
Fortunanto, Ray T, and Genewa Waddell
1981. Personnel Administration In Higher Education. Hand Book of faculty staff personel practice, Jesseybass Inc.Publisher. san francesco, California.
Gibson James L. Jhon M. Ivanchevich dan James Donnely, Jr
1996. Organisasi : Perilaku, Struktur, Proses. Alih bahasa oleh Nunuk Adiami. Edisi kedelapan. Penerbit Binarupa, Jakarta.
Gito Sudarmo, Indriyo dan I Nyoman sudita
1997. Perilaku Keorganisasian, Edisi pertama. Penerbit BPFE,UGM, Yogyakarta
Handoko, T. Hani
1998. Mnajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia, Edisi kedua. Penerbit BPFE,UGM, Yogyakarta.
Hasibuan, S.P Malayu
2000. Managemen Sumber Daya Manusia, Dasar dan Kunci Keberhasilan.Penerbit CV Haji Masagung, Jakarta.
Mangkunegara, Anwar Prabu
2000. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan.
Remaja Rosdakarya Bandung
Nawawi,Hadari
2000. Managemen Sumber Daya Manusia, untuk Bisnis yang Kompetitif.Gajah mada Universiti Press, Yogyakarta.
Robbins. Stehen P,
1999. Manajemen Jilid 1, Edisi Keenam, PT. Prenhallindo, Jakarta.
Simamora, Henri
2000. Managemen SumberDaya Manusia. Edisi Kedua.Penerbit STIE YKPN, Jogyakarta.
Stoner, James AF
1996. Management, Alih Bahasa Agus maulana, Hendradi, dan Kristina. Penerbit Erlangga, Jakarta.
Siagian, Sondang P,
2004. Teori Motivasi dan Aplikasi. Edisi Ketiga, Renaka Cipta, Jakarta.
Sigit, Soehardi,
2003. Perilaku Keorganisasian. Edisi Pertama, Yogyakarta.




























PROPOSAL

PENGARUH KEMAMPUAN KERJA KARYAWAN DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP PRESTASI KERJA KARYAWAN PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM KABUPATEN KUPANG

NAMA : FERISON SINLAE
NIM : 05410024
JURUSAN : MANAJEMEN
JALUR MINAT : MSDM

Menyetujui : Menyetujui :


Frankie J. Salean, SE, MP Stephanus Anduwadju,SE, M.Si
Pembimbing I Pembimbing II

Telah Diseminarkan pada tanggal 30 April 2011 dan telah direvisi/diperbaiki sesuai hasil ujian dan usul saran dari :

TIM PENGUJI
No Nama Dosen Usul/Saran Perbaikan Tanda Tangan
1. Alya Sjioen, SE, MM - Persoalan penelitian dilengkapi


2. Frankie J. Salean, SE, MP - Indikator empirik ditambah dan perubahan pada populasi dan sampel
3. Hermyn B.Hina, SE, M.Si - Perubahan pada rumus hipotesis

4. Dra. Diana P. Medah, M.Si - Pengurangan pada sampel penelitian

5. Damaris Y. Koli, SE, MP - Perubahan pada kuesioner



Mengesahkan :
Program Studi Manajemen
FE. Universitas Kristen Artha Wacana


Maromi M. Mbate, SE, M.Sc
Ketua Progdi Manajemen